Riyadhoh dan Waro’ Kunci Sukses Mendidik Anak

(Menguak Rahasia Kecerdasan Bisma, Hafidz Al-Qur’an dan Kitab Salaf)

Riyadhoh mengandung arti  menempa diri untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Sementara waro’ adalah menjaga diri dari barang syubhat dan haram. Riyadhoh dan Waro’ keduanya memegang peranan penting dalam kesuksesan hidup seorang muslim yang tak hanya bermanfaat bagi diri kita namun juga keturunannya  kelak.

Rasulullah SAW, Sahabat dan para ulama begitu menekankan pentingnya riyadhoh dan waro’. Mereka begitu memaksimalkan waktunya untuk bertaqarrub kepada-Nya dan selalu berhati-hati pada apapun yang masuk ke perut mereka. Hal ini bisa kita dapati pada kisah sosok kedua orangtua Imam Syafii, yang mana begitu gigihnya mereka bertirakat dan menjaga diri dari perkara syubhat apalagi haram yang dimulai jauh sebelum mereka menikah. Berkat ikhtiarnya tersebut, keduanya mampu melahirkan sosok yang begitu masyhur akan kealimannya dan madzhabnya digunakan mayoritas umat islam di dunia.

Belum lama ini, di kita mendapatkan berita menghebohkan dari Kota Udang, Sidoarjo. Dimana salah satu putra terbaiknya mampu menorehkan prestasi yang luar biasa dan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat luas. Sebuah capaian prestasi  yang terbilang langka di tengah kemerosotan zaman ini. Dan sosok yang sedang menjadi trending topic khususnya di kalangan santri ini adalah Roja Muhammad Bisma Rahmatullah.

Bagaimana tidak, di usia yang baru beranjak 10 tahun ini,  Bisma begitulah bocah kelahiran Kabupaten Gresik, 10 April 2007 ini dipanggil mampu mencatat prestasi gemilang atas kecemerlangan hafalannya yang diatas rata-rata anak seusianya. Putra sulung dari pasangan Muhammad Ismail dan Ibu Erlin ini mampu menghafalkan Al-Qur’an 30 Juz saat usia belum sampai 8 tahun. Hafalan itu dituntaskan hanya dalam jangka waktu tak kurang 20 bulan (1 Tahun + 18 Bulan) saja. Bisma dinyatakan khatam pada 12 Pebruari 2015 setelah diuji langsung oleh KH. Ulin Nuha Arwani dan menjadi wisudawan terkecil dalam wisuda akhirussanah PTYQA Tahun 1436 H/2015 M.

Tak cukup itu di usia anak-anak ini, Bisma sudah mampu menghafal kitab nahwu fenomenal karya ulama andalusia (Sekarang Spanyol) Alfiyah bin Malik yang berjumlah 1002 bait,  Kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam yang disusun oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang berisikan 1371 hadist (koreksi pada   banyak laman berita lain yang menyatakan bahwa Bisma Hafal kitab  Dzurratun Nasihin padahal belum) dan Kitab Arbain Nawawi yang berisikan 42 kalam Rasulullah pilihan yang dikarang oleh Syekh Abu Zakaria Muhyiddin an-Nawawi atau yang lebih dikenal dengan Imam Nawawi. Maka tak salah jika Bisma digadang-gadang menjadi Imam Syafii Junior.

Berkat kecerdasan tingkat tinggi yang diperolehnya saat menyantri di Pondok Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Anak (PTQYA) Yayasan Arwaniyyah Desa Krandon Kudus,  Jawa Tengah ini, saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di GOR Delta Sidoarjo Jawa Timur,  Minggu,  (22/10/2017) silam, putra pertama dari 3 bersaudara ini mendapatkan penghargaan prestesius. Anak yang saat ini masih duduk di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah di pesantren yang didirikan oleh Ulama Qur’an Legendaris Almaghfurlahu KH.  Arwani Amin al-Hafidz menjadi tamu kehormatan yang diminta langsung oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin untuk maju ke atas panggung utama. Rois Aam PBNU ini begitu bangga kepada prestasi gemilang Bisma yang masih belia, namun telah mampu menjadi teladan yang baik bagi seluruh santri di nusantara.  Maka Ulama dari Banten ini menghadiahkan Kitab Tafsir Munir atau yang dikenal dengan Kitab Marah Labid karya datuknya, Syekh Nawawi Al-Bantani, di hadapan ulama, pejabat dan 90 ribu santri yang berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari menjelang pertempuran 10 Nopember 1945 di Kota Surabaya ini. Besar harapan Kyai yang baru saja meraih gelar Profesor Honoris Causa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini agar kitab setebal 2 jilid juga dapat dihafalkannya, dipahami maknanya serta diamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab yang banyak dikaji di pesantren-pesantren ini.

Keberhasilan seorang anak, memang tak hanya dari kerja keras anak itu tersebut, namun juga perjuangan keras kedua orang tua serta guru-gurunya yang membesarkan dan mendidiknya. Dan disinilah sekelumit rahasia tentang kehebatan Bisma  sebagaimana disebutkan diatas terkuak. Hal ini  disampaikan langsung oleh ayahandanya, Bapak Muhammad Ismail di kediamannya Desa Tebel Kecamatan Gedangan Kabupaten Sidoarjo menjelang tutup tahun kemarin, Senin (31/12).

Dalam kesempatan itu, sosok bapak yang begitu santun dan bersahaja dari penampilannya ini mengungkapkan rasa syukur atas apa yang diraih oleh putra sulungnya ini. Saat kami tanyakan tentang rahasia mendidik Bisma dengan malu-malu beliau menyebutkan bahwa semua ini tak lepas dari pertolongan Allah, dan ikhtiarnya jauh sebelum Bisma dilahirkan. Riyadoh dan Waro’ begitu resep sukses menurutnya dalam mendidik seorang anak, karena dengannya Insya Allah kita akan dengan mudah melahirkan generasi-generasi cemerlang. Hal ini juga terinspirasi pada kisah orang tua, ulama-ulama terdahulu yang menempa dirinya di masa mudanya terlebih saat sudah memasuki jenjang pernikahan, dimana usaha lahir batin begitu dimaksimalkan dengan harapan dapat menurunkan keturunan yang soleh dan solehah.

Salah satu bentuk riyadhoh yang dilakukan Pak Ismail adalah mengistiqomahkan diri untuk beriktikaf malam di Masjid Sunan Ampel, Surabaya sambil sesekali melakukan Sholat Taqwiyatul Hifdzi, yakni Sholat untuk memperkuat Hafalan Al-Qur’an dimana rokaat pertama setelah fatihah membaca Surat Yasin, kedua membaca As-Sajah, ketiga membaca ad-dukhan dan rokaat terakhir membaca surat Al-Mulk. Selain itu riyadhoh dari ibundanya adalah sering membacakan Al-Qur’an kepada Bisma sejak dalam kandungannya, karena begitu banyak riset membuktikan memperdengarkan Kalam Illahi sejak bayi dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan anak, hal ini salah satunya dapat juga dibuktikan oleh keluarga La Ode Hanifa, yang mampu melahirkan Musa yang begitu fenomenal akan kuatnya hafalan di masa belianya. Di samping itu kedua orang tua Bisma juga berusaha selektif betul pada apa yang dimakannya, karena hal ini juga berpengaruh besar pada kecerdasan anaknya. Dan sebenarnya masih banyak perjuangan riyadhoh dan waro’ kedua orang tuanya yang tak bisa disebutkan disini.

Bapak 3 putra (Roja Muhammad Bisma Rahmatullah, Muhammad Alimuddin dan Muhammad Hilmi Syarifullah) ini bercerita bahwa ketika Bisma sudah beranjak balita, beliau mulai mengajarkannya membaca Al-Qur’an secara langsung. Pengajaran ini dilakukan menggunakan metode Qiroati, sebuah metode baca al-qur’an legendaris karya almaghfurlahu KH. Dahlan Salim Zarkasy. Kemudian saat Bisma menginjak sekitar usia 5 tahun, dia sudah mampu melafalkan Al-Qur’an dengan baik dan benar dan saat itulah pria yang mengaku tidak sampai selesai dalam menghafalkan al-Qur’an ini mulai mengajarkan hafalan dengan cara  beliau membacakan dan ditirukan oleh buah hatinya tersebut dari 5 Ayat dari Surat Al-Baqarah kemudian langsung ke halaman terakhir yakni mulai surat An-Nas berlanjut sampai beberapa urutan surat atasnya.

Belum genap juz 30 dihafalkannya, di usia 6 tahun kedua orang tuanya harus melepaskan putra kesayangannya ini untuk menimba ilmu di kota yang cukup jauh dari Sidoarjo. Meski berat dirasakan, namun karena mereka yakin atas keputusan mulia terlebih saat melihat latar belakang pesantren Yanbuul Qur’an yang telah banyak melahirkan banyak generasi qur’an dan banyak meluluskan hafidz Qur’an di masa muda ini, maka dilepaslah Bisma ke pesantren yang berada tak jauh dari Masjid Al-Aqsha, Kudus yang didirikan oleh Sunan Kudus dan terkenal dengan menaranya yang mirip dengan pura ini. Namun berkat doa tak terputus, keputusan besar itu mulai membuahkan hasil dimana tak sampai 20 bulan menyantri di bawah bimbingan para ustadz di pesantren diasuh oleh putra kedua almagfurlahu KH. Arwani al-Hafidz , yakni KH. Ulil Albab Arwani ini, yang terkenal memiliki standar ketat dalam Pendidikan Baca Al-Qur’an ini, Bisma sudah mampu mengkhatamkan Al-Qur’an 30 Juz dan diikuti dengan hafalan kitab yang kami sebutkan di atas. Dan hal itulah yang kemudian menarik perhatian dari Panitia Hari Santri Nasional 2017 untuk mengundangnya tampil di depan publik dan meraih penghargaan agar kelak menjadi  teladan yang baik bagi ribuan santri-santri lainnya untuk meniru jejaknya.

Maka, terinspirasi dari kesuksesan Bisma tersebut, maka adik kandungnya yang bernama Muhammad Alimuddin juga dipondokkan meski di pesantren berbeda. Alim yang masih duduk di kelas 1 SD, saat ini sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah Malang asuhan KH. Muhammad Fahim Maftuh. Meski hanya sempat 40 hari saja, Alimuddin merasakan kehadiran almaghfurlahu KH. Maftuh Sa’id al-Hafidz yang konon  sudah khatam hafalan Al-Qur’annya di usia 7 tahun ini telah pulang ke Rahmatullah 4 bulan silam. Namun besar harapan kedua orangtuanya semoga prestasi yang ditorehkan oleh kakaknya mampu juga ditorehkan oleh adiknya tersebut. Dan jika impian ini terwujud, maka dalam satu keluarga akan lahir generasi Al-Qur’an yang dididik dari 2 guru yang mengambil sanad Qiro’atnya pada 2 Maha Guru Al-Qur’an di Indonesia yakni KH. Munawwir (dengan jalur KH. Ulil Albab dari KH. Arwani dari KH. Munawwir) dan KH. Munawwar (dengan jalur KH. Muhammad Fahim dari KH. Maftuh Said dari KH. Said Mu’in dari KH. Munawwar). Dari KH. Munawwar (Pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta) dan KH. Munawwar (Pendiri Pondok Pesantren Tahfidz, Sidayu, Gresik) yang sama berguru kepada Syekh Abdul Karim ad-Dimyati dan sama-sama memiliki mata rantai sanadnya mencapai 27 ini akan bersambung sampai Rasulullah SAW.

Begitu juga dengan kita, Insya Allah dengan riyadhoh dan waro’ yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, maka bukan tak mungkin kelak keturunan kita juga akan mendapatkan nikmat yang sama yang di dapatkan dari Keluarga Bapak Muhammad Ismail dan keluarganya, meskipun kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Bahkan bisa jadi kita akan menerima lebih dari yang mereka raih saat ini. Karena begitu besar faidah yang akan diterima kepada mereka sungguh-sungguh dalam riyadhoh dan waro’ terlebih kepada mereka para pembaca dan  penghafal Al-Qur’an, atau bagi kita yang masih belajar membaca Al-Qur’an sebagaimana dikisahkan bahwa mereka kelak selain akan meraih syafaat Al-Qur’an dia akhirat kelak juga akan bersanding bersama malaikat-malaikat yang mulia. Hal ini telah disabdakan oleh Rasulullah SAW

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة. والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق, له أجران. (رواه البخاري والمسلم)

Dari ‘Aisyah RA yang berkata: Rolasululloh SAW bersabda: “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an itu bersama para malaikat pencatat yang mulia yang berbakti. Orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata (tidak lancar) dan Qur’an itu terasa susah baginya saat dibaca, dia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim).

Belajar dari kisah diatas, maka dari sekarang mari kita niatkan betul apa yang kita lakukan selama itu baik, bukan hanya bagi diri kita saja namun juga untuk anak cucu kelak. Renungan Bagi para jomblo bahwa salah satu dari keberhasilan dalam mendidik keturunan kita kelak tergantung pada jerih payah, doa serta tawakkal kita saat ini. Dan bagi yang sudah berkeluarga jangan lupa menyelipkan doa tulus kepada buah hati kita, karena doa kedua orangtua adalah doa yang begitu mustajab atau mudah terkabulkan sebagaimana Rasulullah pernah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا (رواه البخاري)

“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (HR Al Bukhari)

Doa Agar Dikarunia Anak Soleh

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.”

(QS. Ali ‘Imran: 38)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Furqan: 74)

قليل قر خير من كثير فر “Hafalan Sedikit Yang Melekat Lebih Baik Daripada Hafalan Banyak Yang Melesat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *