Para penghafal Al-Quran akan terbagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok Pertama, menzalimi diri sendiri (dhalimun linafsihi). Zalim ialah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Pada kelompok ini, ada para penghafal Al-Quran yang tidak menempatkan ayat Al-Quran pada tempatnya,“(Misalnya) seseorang hafal surat Al-Ikhlas dan memahami bahwa cuma Allah itu Esa, tapi ia mengatakan bahwa semua agama itu sama, menuju Tuhan yang sama hanya caranya berbeda. Ini artinya dhalimun linafsihi, ia hafal Al-Quran tapi ayatnya tidak membimbing dia dalam kehidupan,” Jika seorang anak menghafal Al-Quran lalu pulang dengan hati yang lebih tenang, taat, ibadahnya meningkat, berarti anak tersebut berada di tempat belajar yang benar dan belajar pada guru yang benar. Tapi sebaliknya, jika anak tersebut pulang membawa hafalan 30 juz namun perilakunya tidak terbimbing oleh Al-Quran, menjadi sulit diatur, shalatnya telat dan seadanya saja, maka itu musibah.“Catat baik-baik. Jika Anda menghafal Al-Quran, namun tidak mengubah sifat dan sikap Anda maka pasti ada yang keliru dalam hafalannya,”“Jangan bangga kepada anak seperti itu. Harus diperbaiki karena ia masuk pada kelompok dhalimun linafsihi,” lanjutnya.

Kelompok kedua adalah waminhum muqtashid, ia merasa belum cukup untuk berbagi. Meski hafal 30 juz, misalnya, ia masih senang memperbaiki bacaan dan hafalannya. Masuk dalam kategori ini adalah para penghafal yang menghafal Al-Quran untuk dirinya sendiri.“Ini paket hemat, (yaitu) hemat untuk dirinya saja, belum bisa berbagi. Kadang salah, ia perbaiki lagi,”

Kelompok yang ketiga ini yang diinginkan. Apa itu? Inilah kelompok sabiqun bil khairat bi idznillah. Seorang penghafal Al-Quran yang baik, ia akan bergegas mengambil nilai-nilai kebaikan karena petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.Pada kelompok ini para penghafal akan senang mengejar kebaikan-kebaikan. Ketika menemukan kebaikan, ia selalu ingin menjadi yang pertama melakukannya.“Bahkan, jika Anda mulai menghafal Al-Quran tapi sudah terjadi perubahan seperti mulai senang membaca Al-Quran, shalat tepat waktu, maka itulah hafalan yang benar,” jelasnya. Mengingatkan para orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya ke madrasah atau pesantren untuk selalu memperhatikan perilaku anak-anaknya.

Print Friendly, PDF & Email
Ada Tiga Kelompok Para Penghafal Al-Quran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI