Sebagai seorang Santri Penghafal Qur’an, sudah seharusnya kita bersikap baik kepada Guru.
Baik itu Ustadz, Ustadzah atau Pimpinan Pesantren. Bukan hanya bersikap baik kepada Orang tua saja, tetapi terhadap Guru juga harus. Kita harus selalu menghormati dan menghargai mereka. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Jasanya sangat besar terhadap kita hingga kita menjadi seperti sekarang ini, mampu membaca Al-Quran dengan tahsin yang baik, bahkan sampai mampu menghafalnya. Itu semua karena Guru. Ia selalu mendidik, mengajarkan ilmu-ilmu yang berguna untuk dikemudian hari. Terhadap Guru kita harus selalu bersikap santun, selayaknya Orang tua kita sendiri. Sekarang ini, jika kita lihat moral para Murid diluaran sana, sedikit banyak telah mengalami kemerosotan. Para Murid cenderung melupakan sopan satun teradap Guru yang pada dasarnya Orang tua yang harus dihormati. Boleh jika menganggap Guru sebagai teman, namun sopan santun juga harus tetap dijaga.

  • Ciri-ciri Sikap Ta’dzim

Menurut A. Ma’ruf ciri-ciri sikap ta’dzim ada 5 (lima) hal yaitu :

  1. Apabila duduk di depan guru selalu sopan.
  2. Selalu mendengarkan perkataan guru.
  3. Selalu melaksanakan perintah guru.
  4. Berfikir sebelum berbicara dengan guru.
  5. Selalu merendahkan diri kepadanya.

Sedangkan menurut Sidik Tono, et.al., ciri-ciri sikap ta’dzim adalah sebagai berikut :

  1. Selalu bersikap hormat kepada guru.
  2. Selalu datang tepat waktu.
  3. Senantiasa berpakaian rapi.
  4. Mendengarkan saat guru menerangkan.
  5. Menjawab saat guru bertanya.
  6. Berbicara ketika sudah diberi izin.
  7. Selalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.

Menurut Syeikh Salamah dalam Kitab Jauharul Adab ciri-ciri sikap ta’dzim adalah sebagai berikut:

  1. Selalu mengucapkan salam ketika bertemu dengan guru.
  2. Mengerjakan pekerjaan yang membuatnya senang
  3. Senantiasa menundukkan kepala ketika duduk didekat guru.
  4. Ketika bertemu guru di jalan senantiasa berhenti di pinggir jalan seraya menaruh hormat kepadanya.
  5. Selalu mendengarkan ketika guru menerangkan seraya mencatat.
  6. Selalu menaruh hormat kepada siapapun.
  7. Menjaga nama baik guru dimanapun berada.

Jadi, secara umum ciri-ciri dari sikap ta’dzim  adalah : Bila dihadapan Guru selalu menundukkan kepala dengan niat hormat, selalu mendengarkan perkataan-perkataan Guru, selalu menjalankan perintahnya, menjawab ketika ditanya, selalu merendahkan diri kepadanya, menjaga nama baik Guru dan lain-lain.

  1. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang Murid berakhlak buruk kepada Gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula,  hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Maka seperti apa adab yang baik kepada seorang Guru?

  1. Menghormati guru

Para Salaf, suri tauladan untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap Seorang Guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas seorang sahabat yang ‘alim, mufasir Quran umat ini, seorang dari Ahli Bait Nabi pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiallahu anhu dan berkata,

هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.

Berkata Abdurahman bin Harmalah Al Aslami

ما كان إنسان يجترئ على سعيد بن المسيب يسأله عن شيء حتى يستأذنه كما يستأذن الأمير

“Tidaklah sesorang berani bertanya kepada Said bin Musayyib, sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang raja”.

Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata

مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ

“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.

Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan,

تواضعوا لمن تعلمون منه

“ Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Al Imam As Syafi’i berkata,

كنت أصفح الورقة بين يدي مالك صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها

“Dulu aku membolak balikkan kertas  di depan  Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

Abu ‘Ubaid Al Qosim bin Salam berkata, “Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari Guruku, karena Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kalau sekiranya mereka sabar, sampai kamu keluar menemui mereka, itu lebih baik untuknya”(QS. Al Hujurat: 5).

Sungguh mulia akhlak mereka para suri tauladan kaum Muslimin, tidaklah heran mengapa mereka menjadi Ulama besar di umat ini, sungguh keberkahan ilmu mereka buah dari akhlak mulia terhadap para Gurunya.

  • Memperhatikan adab-adab ketika berada di depan guru
  1. Adab Duduk

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnyaHilyah Tolibil Ilm mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama Syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.

”Syaikh Utsaimin mengomentari perkataan ini, “Duduklah dengan duduk yang beradab, tidak membentangkan kaki, juga tidak bersandar, apalagi saat berada di dalam majelis.

”Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi  juga tidak membelakangi gurunya”.

Apakah sopan jika seorang murid berbicara keras kepada gurunya, menyela pembicaraan guru dan lain sebagainya. Sungguh hal itu sangat tidak beradab. Ada baiknya murid diberi pelajaran adab terhadap guru. Agar moral yang sekarang ini telah terkikis bisa diperbaiki. Beberapa kitab yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui adab murid terhadap guru adalah kitab Ta’lim Muta’alim karya Sheikh Az-Zarnuji. Dalam kitab beliau  Ta’lim Muta’alimditerangkan adab murid terhadap guru adalah :

  1. Seorang Murid tidak berjalan di depan Gurunya
  2. Tidak duduk di tempat Gurunya
  3. Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin Guru
  4. Tidak berbicara di hadapan Guru
  5. Tidak bertanya sesuatu bila Guru sedang capek atau bosan
  6. Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai Guru keluar
  7. Seorang Murid harus kerelaan hati Guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan Guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentanangan dengan agama
  8. Termasuk menghormati Guru adalah juga dengan menghormati Putra-putra Guru, dan Sanak kerabat Guru
  9. Jangan menyakiti hati seorang Guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah
  10. Murid harus taat kepada Guru terhadap apa yang diperintahkan didalam perkara yang halal.
  11. Murid harus menghormati Guru
  12. Mengucapkan salam ketika bertemu dengan Guru, karena perilaku itu bisa membuat Guru senang
  13. Ketika Murid bertemu guru di tepi jalan, hendaklah Murid menghormati Guru dengan berdiri dan berhenti
  14. Murid hendaknya menyiapkan tempat duduk Guru sebelum Guru datang
  15. Ketika duduk di hadapan Guru harus sopan seperti ketika sedang sholat yaitu dengan menundukkan kepala
  16. Murid harus memperhatikan penjelasan Guru
  17. Ketika duduk dalam suatu majelis pelajaran, Murid hendaklah tidak menolah-noleh ke belakang
  18. Murid jangan bertanya kepada Guru tentang ilmu yang bukan di bidangnya atau bukan ahlinya
  19. Murid harus memperhatikan penjelasan Guru dan mencatatnya untuk mengikat ilmu agar tidak mudah hilang
  20. Murid harus berprasangka baik terhadap Guru

Semua ini penting diketahui Murid, karena jika seorang Murid menghormati Guru, maka ilmu yang diperoleh bisa manfaat.

Seorang Penyair berkata: “Sesungguhnya Guru dan Dokter keduanya tidak akan menasihati kecuali bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika tidak menuruti Dokter, dan terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada Guru.”

Jadi sangat jelas, bahwa menghormati Guru itu harus ditanamkan sejak dini kepada Murid, agar murid mengetahui adab terhadap Guru, sehingga dalam menuntut ilmu para Murid diberi kemudahan untuk memahami berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada.

bahwa sikap ta’dzim adalah suatu totalitas dari kegiatan ruhani (jiwa) yang di realisasikan dengan prilaku dengan wujud sopan-santun, menghormati orang lain dan mengagungkan Guru. Sikap ta’dzim ini wajib dilakukan oleh siswa kepada Gurunya, sebagaimana syairan Syekh Salamah Abi Abdul Hamid yang diterjemahkan oleh Mas’ud bin Abdur Rohman sebagai berikut :

ذاان تكن متعلما فا متثلن  #   متعلما فيما يحل وعظ

Artinya : “Siswa itu wajib taat kepada Gurunya, menurut apa yang diperintahkan Guru didalam perkara yang halal, dan wajib ta’dzim (mengagungkan) kepada Gurunya”.

  1. Adab Berbicara

Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah, bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara  Umar jika berbicara. Di hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Sungguh adab tersebut tak terdapatkan di umat manapun.

  1. Adab Bertanya

Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman,

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl: 43).

Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah di ayat ini, dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang  kerancuan, serta mendapat keilmuan. Tidak diragukan bahwa bertanya juga mempunyai adab di dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan  harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan,  jelas, singkat dan padat, juga  tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah adab yang baik seorang murid terhadap gurunya, kisah Nabi Musa dan Khidir. Pada saat Nabi Musa ‘alihi salam meminta Khidir untuk mengajarkannya ilmu,

إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْراً

“Khidir menjawab, Sungguh, engkau(musa) tidak akan sanggup sabar bersamaku” (QS. Al Kahfi: 67).

Nabi Musa, Kaliimullah dengan segenap ketinggian maqomnya di hadapan Allah, tidak diizinkan untuk mengambil ilmu dari Khidir, sampai akhirnya percakapan berlangsung dan membuahkan hasil dengan sebuah syarat dari Khidir.

  1. Adab dalam Mendengarkan Pelajaran

Para pembaca, bagaimana rasanya jika kita berbicara dengan seseorang tapi tidak didengarkan?  Sungguh jengkel dibuatnya hati ini. Maka bagaiamana perasaan seorang guru jika melihat murid sekaligus lawan bicaranya itu tidak mendengarkan?. Sungguh merugilah para murid yang membuat hati gurunya jengkel.

Agama yang mulia ini tak pernah mengajarkan adab seperti itu, tak didapati di kalangan salaf adab yang seperti itu. Sudah kita ketahui  kisah Nabi Musa yang berjanji tak mengatakan apa-apa selama belum diizinkan. Juga para sahabat Rasulullah yang diam pada saat Rasulullah berada di tengah mereka.

Bahkan di riwayatkan Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.

Apa yang akan Yahya bin Yahya katakan jika melihat keadaan para penuntut ilmu saat ini, jangankan segerombol gajah yang lewat, sedikit suarapun akan dikejar untuk mengetahuinya seakan tak ada seorang guru di hadapannya, belum lagi yang sibuk berbicara dengan kawan di sampingnya, atau sibuk dengan gadgetnya.

  1. Mendoakan guru

Banyak dari kalangan salaf berkata,

ما صليت إلا ودعيت لوالدي ولمشايخي جميعاً

“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”

  1. Memperhatikan adab-adab dalam menyikapi kesalahan guru

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

كل ابن آدم خطاء و خير الخطائين التوابون

“Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan yang terbaik dari mereka adalah yang suka bertaubat” (HR. Ahmad)

Para guru bukan malaikat, mereka tetap berbuat kesalahan. Jangan juga mencari cari kesalahannya, ingatlah firman Allah.

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (QS. Al Hujurot:12).

Allah melarang mencari kesalahan orang lain dan menggibahnya, larangan ini umum tidak boleh mencari kesalahan siapapun. Tidak membicarakan dan menjelekkannya, melainkan harus membelanya ketika dijelekkan orang lain. Mendoakannya semoga diberi pahala atas ilmu yang sudah ia ajarkan. Serta diberikan ampunan dosa-dosanya.Mengambil manfaat dari kebaikan guru dan meneladani akhlak mulia yang dilakukannya.Menjaga adab berbicara dan diskusi dengannya.Taat kepada guru dalam semua perkara, kecuali perkara maksiat kepada Allah Swt.Bertutur katalah dengan lemah lembut dan penuh dengan rendah diri kepada guru.Meminta izin kepada guru ketika tidak hadir sekolah dan akan keluar kelas karena ada keperluan.Memberi salam kepada guru apabila berjumpa disekolah maupun diluar sekah.Memberi peehatian besar dalam pengajaran guru, duduk dengan sopan, dan dalam keadaan tenang.Rendah hati dihadapan guru. Dengan rendah hati maka ilmu yang masuk dalam dirimu akan lebih mudah.

Sungguh baik para Salaf dalam doanya,

اللهم استر عيب شيخي عني ولا تذهب بركة علمه مني

“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmuya dari ku.”

Para salaf berkata,

لحوم العلماء مسمومة

“Daging para ulama itu mengandung racun.

”Guru kami DR. Awad Ar-Ruasti Hafidzohullah menjelaskan tentang makna perkataan ini, “Siapa yang suka berbicara tentang aib para ulama, maka dia layaknya memakan daging para ulama yang mengandung racun, akan sakit hatinya, bahkan dapat mematikan hatinya.”

Namun, ini bukan berarti menjadi penghalang untuk berbicara kepada sang guru atas kesalahannya yang tampak, justru seorang tolabul ‘Ilm harus berbicara kepada gurunya jika ia melihat kesalahan gurunya. Adab dalam menegur merekapun perlu diperhatikan mulai dari cara yang sopan dan lembut saat menegur dan tidak menegurnya di depan orang banyak.

Meneladani penerapan ilmu dan akhlaknya, merupakan suatu keharusan seorang penuntut ilmu mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya. Kamipun mendapati di tempat kami menimba ilmu saat ini, atau pun di tanah air, para guru, ulama,  serta ustad begitu tinggi akhlak mereka, tak lepas wajahnya menebarkan senyum kepada para murid, sabarnya mereka dalam memahamkan pelajaran, sabar menjawab pertanyaan para tolibul ilm yang tak ada habisnya, jika berpapasan di jalan malah mereka yang memulai untuk bersalaman, sungguh akhlak yang sangat terpuji dari para penerbar sunnah.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika Gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak. Namun bila keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di majelis seorang guru mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”

  1. Sabar dalam membersamainya

Tidak ada satupun manusia di dunia ini kecuali pernah berbuat dosa, sebaik apapun agamanya, sebaik apapun amalnya nya, sebanyak apapun ilmunya, selembut apapun perangainya, tetap ada kekurangannya. Tetap bersabarlah bersama mereka dan jangan berpaling darinya.

Allah berfirman :

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS.Al Kahfi:28).

Karena tidak ada yang lebih baik kecuali bersama orang orang yang berilmu dan yang selalu menyeru Allah Azza wa Jalla.

Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan,

اصبر على مر من الجفا معلمفإن رسوب العلم في نفراته

“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”

Besar jasa mereka, para Guru yang telah memberikan ilmunya kepada manusia, yang kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran, sungguh tak pantas seorang murid ini melupakan kebaikan gurunya, dan  jangan pernah lupa menyisipkan nama mereka di lantunan doamu. Semoga Allah memberikan rahmat dan kebaikan kepada guru guru kaum Muslimin. Semoga kita dapat menjalankan adab adab yang mulia ini.

  1. Mencari Ridho Guru

Santri, ketika masuk ke sebuah Pondok Pesantren ibarat sepeda yang sedang diperbaiki  di bengkel. Sama-sama untuk diperbaiki dengan tujuan dapat dimanfaatkan dan berguna. Ketika diperbaiki oleh sang empu bengkel, sepeda harus menerima segala macam bentuk perbaikan. Semua yang dianggap bermasalah hampir pasti diperbaiki dengan keterampilan yang dimilikinya. Begitu juga Santri, ia harus mematuhi segala yang disarankan dan diperintahkan oleh sang Guru, terkhusus Pimpinan Pesantren sebagai empunya Pondok Pesantren. Hal-hal yang diinstruksikan Umi sebagai Pimpinan Pesantren, sudah tentu untuk kebaikan seluruh Santrinya. Meskipun, ketika keadaan seperti itu banyak Santri yang tidak merasakannya, atau bahkan merasa dipenjara, dikekang, dibatasi pergerakannya dan hal-hal “negative thinking” lainnya. Namun percayalah, semua itu pasti ada efek baiknya yang akan dirasakan, meskpun itu di masa jauh yang akan datang

Jika Santri tidak nurut, membangkang, atau bahkan memberontak terhadap perintah Gurunya, jangan harap ia akan menjadi sesuatu yang berguna. Dalam hal ini, ridho sang Guru-lah yang harus di cari oleh para Santri. Meskipun secara dzohir (kasat mata) ia menjadi orang besar di suatu hari, tapi ketika sang Guru tidak meridhoi-nya maka kebesaran yang didapatkannya merupakan kesia-siaan belaka. Karena Ridho Allah ada di tangan Guru. Konsklusi itu muncul dari premis, bahwasannya ridho Allah itu ada pada ridho ke dua orang tuanya, sementara “Guru adalah Orang tua bagi (ruh) santri juga.”, maka ridho Alloh juga terletak pada ridho guru.

Seorang sya’ir berkata:

اُقَدِّمُ أُسْتَا ذِىْ عَلَى نَفْسِ وَالِدِيْ       #      وَإِنْ نَا لَنِيْ مِنْ وَالِدِى الْفَضْلَ وَالشَّرَفُ

فَدَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ    #          وَهَذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمِ كَالصَّدَف

“Saya mengutamakan guru daripada orang tua # walaupun saya mendapatkan kemuliaan darinya”

“Namun, guru adalah orang yang menuntun jiwa yang diibaratkan sebagai mutiara # sementara orang tua adalah orang yang menuntun raga yang diibaratkan sebagai wadahnya mutiara”

Syi’ir ber-bahar thowil di atas merupakan syi’ir yang biasanya terdapat pada kitab-kitab ber-fan akhlak. Syi’ir tersebut mengajarkan pada kita betapa pentingnya posisi guru di hadapan santri/murid. Betapa murid harus menghormati sang guru. Sayyidina Ali bin Abi Tholib penah berkata bahwasannya beliau sedia menjadi budak bagi orang yang telah mengajarkannya sebuah ilmu, walaupun itu satu huruf saja. Dalam sebuah syi’ir juga disebutkan

لقد حقّ أن يهدى إليه كرامةً    #     لتعليْمِ حرفٍ واحدٍ ألْفُ دِرْهمٍ

“Sungguh, selayaknya seorang guru diberi kehormatan yang berlimpah.

Untuk satu huruf yang ia ajarkan, senilai dengan seribu dirham”

Melihat atmosfir di Pondok Pesantren, rasanya sudah cukup untuk mempresentasikan bagaimana seorang murid wajib menghormati gurunya. Isitlah ta’dzim biasa digunakan untuk hal itu. Walaupun tidak mutlak semua santri mengamalkannya, tapi setidaknya sebagian besar santri mengakui dan pernah menjalaninya. Bagaimana setiap santri berebut membalikkan sandal sang guru agar mempermudah saat dipakai, atau ketidakberanian santri menatap langsung mata sang guru (menundukkan kepala), “ngesot” saat sowan (menghadap) guru di rumahnya atau bahkan rela memijit sang guru semalam suntuk tanpa berani protes. Intinya bagi santri perintah guru itu mutlak dilakukan ketika tidak melanggar syari’at. Tapi rasanya, sangat minim sekali jika seorang guru memberikan perintah untuk melakukan yang sesuatu yang diarang syari’at.

Jika memakai kacamata modernisme yang cenderung materialisme, kelakuan santri membalikkan sandal sang guru memanglah sesuatu yang aneh. Tapi secara tidak sadar, hal sederhana tersebut akan memupuk rasa kepedulian dan kepekaan kita sebagai manusia terhadap keadaan sekitar. Kita akan lebih tersentuh untuk memberikan kemudahan kepada orang lain, meskipun ia tidak memintanya. Memupuk perasaan demikian tidaklah mudah terwujud, jika hanya mengandalkan seabreg teori yang tercantum di dalam buku-buku pelajaran yang “mereka” sebut pendidikan karakter, namun minim aplikasi. Masih banyak nilai-nilai pesantren yang terkadang tidak bisa dilogikakan dengan hanya mengandalkan akal semata yang berkutat dalam hal patuh-mematuhi guru. Meskipun sekarang kita merasa semua itu tak ada gunanya atau bahkan merugikan diri kita karena membuat “HAM” kita terekekang Yang terpenting bagi kita para santri, percayalah bahwa apa yang kita jalani sekarang pasti akan ada baiknya di kemudian hari dan jangan berhenti khidmah bagi Pesantren di mana kita menjalani merah-hitamnya peraturan. Semua keberhasilan tidak akan terasa manis tanpa adanya banyak pengorbanan atau keprihatinan yang kita alami. Mari kita mencari dan menggapai ridho guru kita untuk lebih memberikan manfaat pada kehidupan kita.

Sebagai penutup, mari kita simak syi’ir dalam kitab Tanbihul Muta’allim fi adabil tholab al’ilmi.

لاَ يَكْتِفِيْ النَّحْلُ فِيْ شَمْعٍ يُضِيْ عَسَلٍ    #    يَشْفِيْ بِمادَّةٍ و مِنْ مَوَادِّهَا حَفَلَ

“(Bukankah) tidak cukup bagi seekor lebah yang menghasilkan lilin yang menyinari (di malam hari) dan madu yang dapat menyembuhkan hanya dengan satu bahan saja, melainkan dari himpunan berbagai bahan”.

Sekian artikel kali ini, semoga dapat menambah wawasan kita dan bermanfaat buat kita semua. Agar kita menjadi tidak hanya menjadi Penghafal Qur’an yang berwawasan luas, namun juga berakhlak yang baik lagi mulia. Yuk memantaskan diri menjadi keluarga Allah. Karena Ahlul Qur’an huwa Ahlullah.

Print Friendly, PDF & Email
ADAB TERHADAP GURU
Tag pada:                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI