Assalamu’laikum..

Sahabat Quran,, Bagaimana kabarnya? Akankah kita akan selalu bersama Al Quran? Semoga iya.

Mampukah akhlakku dan akhlaq kita seperti akhlaq dalam Al-Quran?. Pertanyaan itu sedari dulu memutar pikiran ini.  Dulu lama sekali sejak niat hijrah untuk mendapatkan ridho Allah.

Aku sadar bahwa aku dan Al quran harus mendarah daging. Namun nyatanya aku sampai kini belum mampu menjadi pribadi yang baik. ya, mungkin sangat jauh dari kata baik. Bagaimana mungki aku bisa mengajari orang jadi baik kalau aku sendiri belum baik.

Secara garis besar dikenal dua bentuk  akhlak; yaitu akhlâq al-karîmah (akhlak terpuji), akhlaq yang baik dan benar menurut syariat islam, dan akhlâk al-madzmûmah (akhlak buruk), akhlak yang tidak baik dan tidak benar menurut syariat Islam. Akhlak yang baik dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik pula, demikian sebaliknya akhlak yang buruk terlahir dari sifat-sifat yang buruk. Sedangkan yang dimaksud dengan akhlâk al-madzmûmah adalah perbuatan atau perkataan yang munkar, serta sikap dan perbuatan yang tidak sesuai dengan syari’at Allah, baik itu perintah ataupun laranganNya, dan tidak sesuai dengan akal dan fitrah yang sehat.

Berikut ini beberapa macam dan penjelasan tentang akhlak mahmudah:

  1. Al-Rahman, yaitu belas kasihan dan lemah lembut. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 159 yang artinya: “Maka dengan rahmat Allah-lah engkau lemah lembut kepada mereka.”
  2. Al-‘Afwu, yaitu pemaaf dan mau bermusyawarah. Manusia tidak bisa lepas dari lupa dan kesalahan. Firman Allah dalam surat dan ayat yang sama, yang artinya“…Sebab itu maafkanlah kesalahan mereka; dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
  3. Amanah, yaitu terpercaya dan mampu menemmpati janji. Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik berupa tugas, titipan harta, rahasia, dan amanat lainnya, mesti dipelihara dalam arti dilaksanakan sebagai mana mestinya. Demikian pula apabila berjanji, hendaknya di tepati. Allah berfirman dalam surat al-Mu’minun ayat 8 yang artinya, “Dan yang memelihara amanat dan janji mereka …”
  4. Anisatun, yaitu manis muka dan tidak sombong. Manis muka ini mungkin pembawaan sejak lahir. Namun bagi orang yang tidak memiliki sifat demikian, dapat dipelajari dengan membiasakan manis muka, karena orang yang suka berpaling itu kemungkinan dianggap sombong, sedangkan orang yang sombong itu tidak disukai oleh Allah Swt dan juga oleh manusia. Allah berfirman dalam surat Lukman ayat 18 yang artinya: “Dan janganlah engkau memalingkan mukamu terhadap manusia, dan janganlah berjalan di muka bumi ini dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
  5. Khusyu’ dan Tadarru’, yaitu tekun tidak lalai dan menundukan atau merendahkan diri terhadap Allah Swt. Sikap ini seringkali dikhususkan dalam shalat atau ibadah mahdlah lainnya. Misalnya diwaktu shalat itu hendaknya ada konsentrasi pikiran yang terpadu dengan apa yang diucapkan dan dirasakan dalam hati, sehingga tidak lalai dan melamun. Tidak tergesa-gesa namun hendaknya tuma’ninah, dapat dirasakan ketika bersujud dan ketika berdo’a. Allah berfirman dalam surat Al-Mu’minun ayat 2 yang artinya “Orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” Dalam surat Al-Araf ayat 55 yang artinya, “Bermohonlah kepada Tuhan dengan merendahkan diri dan rahasia suara jiwa.”
  6. Al-Haya, yaitu malu kalau diri tercela. Perasaan malu terhadap Allah apabila melakukan terhadap ma’siyat, meskipun tersembunyi dari pandangan manusia. Demikian pula tidak berani meninggalkan kewajiban. Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 108 yang artinya, “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi tidak ersemunyi dari Allah, karena Allah bersama mereka…”
  7. Al-Ikhwan dan Al-Ishlah, yaitu persaudaraan atau perdamaian. Antara orang yang beriman dengan yang beriman lainnya bersaudara. Allah berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 10 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu demikianlah (perbaikilah hubungan) antara keduanya dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapat rahmat (dari pada-Nya).”
  8. Al-Salihat, yaitu berbuat baik atau amal shaleh. Seseorang dikatakan beramal soleh, apabila ia mengerjakan pekerjaan yang dibolehkan oleh syara’, disertai ilmunya dan dengan niat yang ikhlas. Mungkin nampaknya pekerjaannya baik, namun niatnya buruk misalnya, maka bukanlah amal shalih, mungkin penipu atau berbuat munafik. Yang jelas ketiga persyaratan itu harus dipenuhi baik oleh wanita atau pria sama saja. Firman Allah dalam surat al-Nisa ayat 124 yang artinya, “Dan siapa yang mengerjakan perbuatan yang baik, baik laki-laki maupun perempuan dan ia beriman, maka orang itu masuk dalam surga, dan mereka tidak dirugikan sedikitpun.”
  9. Al-Sabru, yaitu sabar. Sabar ini terhadap 3 macam hal, yaitu sabar dalam beribadah, ialah dimulai dengan niat yang ikhlas, ketika beramal tidak lupa kepada Allah, sanggup menghadapi berbagai rintangan baik dari dalam maupun dari luar. Kemudian shabar dalam menjauhkan diri dari perbuatan ma’siyat, tidak tertarik dengan godaan duniawiyah yang jelas tidak diperbolehkan dengan agama dan sabar yang ketiga adalah shabar dalam mendapat musibah, kemungkinan belum tercapainya cita-cita, tidaklah berputus asa, juga ditimpa malapetaka. Musibah yang menimpa manusia ini juga ada 3 macam, yaitu kemungkinan siksaan bagi orang yang berdosa, peringatan bagi orang mukmin yang lalai dan ujian bagi orang-orang yang shalih. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 153 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan shabar dan mengerjakan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang shabar.”
  10. Al-Ta’awun, yaitu tolong menolong. Tolong menolong merupakan ciri kehalusan budi, kesucian jiwa dan ketinggian akhlak, memudahkan saling mencintai dan saling mendo’akan satu sama lain, penuh solidaritas dan penguat persaudaraan dan persahabatan. Firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 2 yang artinya, “Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikkan dan takwa, dan janganlah bertolongan dalam dosa dan permusuhan.”

Demikianlah sebahagian akhlak terpuji yang disertai ayat-ayat al-Qur’annya, dan masih banyak lagi sifat-sifat yang baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun dalam hadits, seperti: al-Alifah, yaitu disenangi; al-Diyafah, yaitu menghormati tamu; al-Hilm, yaitu menahan diri dari ma’siyat; al-Muru’ah, yaitu berbudi tinggi; al-Nadzafah, yaitu bersuci/bersih; al-Sakhau, yaitu pemurah; al-Salam, yaitu sejahtera/ sentosa; al-Siddiq, yaitu bersikap jujur; al-Syaja’ah, yaitu berani karena benar; al-Tawadlu’, yaitu rendah hati terhadap sesama manusia dan banyak lagi sifat-sifat terpuji lainnya.

Berikut akhlaq tercela :

  1. Pengertian Ananiah

Ananiah atau egois asrtinya segala perbuatan atau tingkah laku yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekelilingnya, dan kepentingan bersama (masyarakat banyak). Perbuatan tersebut sangat bertentangan dengan ajaran islam, di mana islam mengajurkan kepada umatnya untuk memeperhatikan dan saling tolong-menolong antara satu dengan yang lain dalam hal kebaikan dan takwa.

Firman Allah SWT  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah[389], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram[390], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[391], dan binatang-binatang qalaa-id[392], dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya[393] dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al Maidah: 2)

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa kita dianjurkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, serta memperhatikan lingkungan yang serba kekurangan dan dilarang saling tolong-menolong dalam hal kemaksiatan dan dosa.  Allah SWT juga menjelaskan dalam ayat yang lain : “….mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Al Hasyr : 9).

Sedangkan dalam ayat lain Allah berfirman “Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkan dia mengeluarkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orangyang mendustakan ayat-ayat kami. maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Qs. Al A’raf  : 176)

Rasulullah SAW. Bersabda “Sebaik-baik ,manusia adalah yang selalu bermanfaat kepada manusia lainnya.” (HR. Bukhari)

Maksud dari ayat dan hadits di atas adalah setiap orang butuh akan pertolongan orang lain dalam berbagai keadaan. Contoh: waktu menyeberang di jalan raya, kamu melihat seorang buta auat nenek-nenek mau menyeberang. Apakah kamu membiarkan mereka menyeberang sendirian? Apakah yang kamu lakukan terhadap mereka?

  1. Bahaya sifat egois

Adapun bahaya dari sifat egois itu adalah:

  1. akan dijauhi oleh teman/masyarakat
  2. menimbulkan permusuhan
  3. retaknya tali persaudaraan/pergaulan
  4. Cara menghindari perbuatan tersebut antara lain sebgai berikut:
  1. menyadari bahwa sifat egoismerugikan orang lain,
  2. meningkatkan iman dan taqwa
  3. menjauhi sifat tamak

B. Ghadab

Ghadab (pemarah) artinya orang yang suka marah. Sedangkan marah artinya berontaknya jiwa dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi atau marah adalah luapan hawa nafsu, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan yang tidak terkendali.

Dalam pergaulan hendaknya manusia jangan mudah marah. Apabila arah karena hal-hal yang sepele, yang sebenarnya tidak perlu marah,tetapi menjadi marah besar (murka). Hal yang demikian tidak sesuai dengan pribadi muslim yang sebenarnya. Sebab selain menganjurkan agar kita menjadi pemaaf, suka maafkan kesalahan atau kehilafan orang lain agar persaudaraan dapat terpelihara dengan sebaik-baiknya.

Disekolah ada seorang guru yang sabar dalam menghadapin perilaku siswanya. Meskipun siswanya tidak memeperdulikannya, namun ia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai guru dengan baik, bahkan ia tetap menyayangi siswanya. Pada suatu ketika ia mendadak marah, anak-anak tidak ada yang berani berbicara dan mereka tidak mengerti apa penyebabnya, sehingga mereka diam semuanya.

Sikap guru tersebut sangat bertentangan dengan norma agama, padahal islam menganjurkan kepda umatnya untuk bersabar bila mengadapi ujian atau cobaan. Permasalahan tidak boleh dihadapi dengan marah. akan tetapi harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

Sabda Rasulullah SAW. “Janganlah kamu memutuskan suatu perkara antara yang bersengketa ketika engkau dalam keadaaan marah.” (HR. Bukhari)

Al Ghazali juga mengatakan bahwa orng tyang sabar ialah orang yang sanggup bertahan dalam mengadapi gangguan dan rasa sakit, yang sanggup memikul beban yang tidak disukainya, yang sanggup mengendalikan kemarahan.

Firman Allah SAW. “Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan dengan sabar dan sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah: 153)

Allah SWT juga menjanjikan kepada orang-orang yang sanggup menahan amarahnya dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. “…..dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disedikan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memanfaatkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs Ali Imran : 133 –134)

Jika terlajur marah, maka sikap yang diajarkan Rasulllah SAW adalah“Sesungguhnya marah itu dari syetan dan sesungguhnya setan itu dijadikan dari api dan pai akan mati dengan (disiram) air, maka apabila marah seseorang di antara kamu, maka berwudhulah.” (HR Abu Dawud)

Demikianlah, kita harus mampu menahan amarah, karena amarah itu datangnya dari syetan yang akan senantiasa menyesatkan kita, sehingga kita akan berbuat yang tidak seharusnya kita lakukan. Orang yang kuat bukanlah orang yang kuat dan menang dalam bergulat melainkan orang yang sanggup menahan marahnya.

  1. Bahaya sifat pemarah

Adapun bahaya sifat pemarah antara lain:

  1. dibenci oleh Allah SWT, teman dan masyarakat
  2. menimbulkan permusuhan
  3. retaknya tali persaudaraan
  1. Cara menghindari sifat pemarah antara lain sebagai berikut:
  2. membaca ta’awuz
  3. seringlah membaca istigfar
  4. apabila marah segeralah mengambil air wudhu
  5. jika saat marah itu kita sedang berdiri, segeralah duduk dan jika dalam keadaan duduk, segeralah berbaring

C. Hasad

Hasad artinya menaruh perasaan benci, tidak senang yang amat sangat terhadap keberuntungan atau kenikmatan yang di peroleh.

Hasad merupakan akhlak yang tercela, harus dihindari dalam kehidupan sehari- hari. Wujudnya seperti memusuhi, menjelek- jelekan, mencemkan nama baik orang lain, dan lain- lain. Sabda Rasullah“Telah masuk kedalam tubuhmu penyakit – penyakit umat dahulu, ( yaitu ) benci dan dengki. Itulah yng membinasakan agama, buakan sengki mencukur rambut.”  ( Hr. Abu Daud Tirmidzi )

Hadits diatas menjelaskan apabila manusia apabila manusia saling mendengki, maka ajaran agama dan segala tatanan hukum tidak akan mengaturnya. Sehingga Rasulullah SAW mengibaratkan sifat dengki bagaikan api yang membakar kayu bakar.

  1. Bahaya Sifat Hasad

Rasulullah SAW menggambarkan buruknya sifat hasad seprti api yang membakar kayu bakar, sebagia perusak dan penghancur Sendi-sendi agama, artinya orang bersikap dan berbuat dengki pada dasarnya sama dengan penghancur agama. Hasad harus dihindari karena merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Adapun bahaya hasad antara lain:

  1. menimbulkan permusuhan dan pertikain
  2. menimbulkan perasaan dendam
  3. menghilangkan persahabatan
  4. tidak disenangi oleh orang banyak
  5. menghilangkan semua aml baik yang telah dilakukan
  6. dibenci Allah SWT ( mendapat dosa )
  1. cara menghindari sifat hasad ( dengki )

Cara menghindari sifat hasad,antara lain

  1. meningkatkan iman dan taqwa kerada Allah SWT.
  2. mendekatkan diri kepada Allah SWT,dengan harapan hati dan pikiran menjadi

tenang.

  1. menyadari bahwa hasad dapat menghupus kebaikan.
  2. mempererat tali persaudaraan guna terjalin kerukunan dan kebersamaan
  3. meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT
  4. menumbuhkan sifat qan’ah ( merasa cukup terhadap apa yang dimiliki )

D. Ghibah

  1. Pengertian ghibah

ghibah dalm bahasa disebut mengumpat dan mengunjing. Sedangkan menurt istilah ghibah adalah menyebut atau memperkatakan seseorang dibelakng dirinya apa yang dibencinya. Ghibah terjadi antara lain disibebkan kedengkian, mencari muka atau mengolok – olok dengan tujuan untuk menjatuhkan martabat orng yang diumpat atau mengurangi rasa hormat orang lain kepada orang tersebut.

Perilaku Ghibah ini adalah sesustu hal yang dilarang oleh Allah SWT dan rasul- Nya. Firman Allah SWT. “dan janganlah kamu mencari – cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian mengunjing sebahagian yang lain. Sukakahsalah seorang diantara kamu memakn daging saudaranya yang mati? Maka tentulah merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” ( Qs. Al Hujarat : 12 )

  1. Akibat negatif Ghibah

Akibat negatif yang ditimbulkan perbuatan Ghibah antara lain :

  1. menimbulkan perpecahan umat, pertengkaran atau bahkan pertempuran.
  2. Merusak persaudaraan antara muslim
  3. tidak akn masuk surga, karena Allah SWT membecinya
  4. melemahkan kekuatan umat islam karena tidak adanya persatuan dan kesatuan
  1. Cara Menghindari perbuatan Ghibah
  2. menyadari bahwa Allah SWT membenci orang yang memggunjing ( Ghibah )
  3. mengingat bahwa kita juga memiliki kekurangan, karena tidak ada manusia yang          tidak memiliki cela atau aib yang memunkinkan untuk digunjing orang lain.
  1.  Namimah atau mengadu domba adalah usah atau perbuatan seseorang baik berupa ucapan atau perbuatan yang bertujuan mengadu domba satu orang dengan orang lain, satu golongan dengan golongan yang lain, dan lain sebagainya.Perbutan namimah adalah perbuatan yang dibenci orang Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya. “dan janganlah engkau patuhi orang – orang yang suka bersumpah dan suka menghina , suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.”    ( QS. Al Qalam : 10- 11)                                                                Namimah

Orang yang terbiasa dengan sifat naminah akan slau berbuat kerusakan dimana pun dan kapanpun, apalagi sifat ini sudah terpatri kuat dalam hati. Orang – orang seperti akan selsu menggunakn siasat buruknya untuk kepentingan pribadinya. Selain itu, ia akan selalu mencela orang lain dengan kesana kemari menyebar fitnah, mereka adalah orang yang selalu bersama – sama berada ditengah – tengah dengan tujuan untuk menghasut, membuat huru – hara, dan kerusakan .

  1. Dampak negatif namimah

Adapun beberapa akibat negatif yang ditimbulkan dari sifat namimah antara lain sebagai berikut :

  1. Dapat merusak hubungan baik antar sesama manusia

b.Orang yang memiliki sifat namimah akan dikucikan darii kehidupan masyarakat,

dan diperlakukan buruk lainnya.

  1. Orang yang memiliki sifat namimah akan mendapat siksa kubur. Rasulullah saw

bersabda : “Sesungguhnya Rasulullah Saw melewati dua kuburan, lalu Rasulullah bersabda penghuni kedua kuburan ini telah disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Yang satu tidak membersihkan kencing dan yang lain berjalan untuk mengadu domba.”( H.R. Asy- Syakhani )

  1. Mendapat siksa dari kubur

Rasulullah SAW bersabda: “ Dan Abu Darda berkata : “Rasulullah bersabda : setiap orang yang menyebarkan pada seseorang dengan kalimat untuk melakukan di dunia, maka baginya atas Allah siksa yang menghancurkan di neraka pada hari kiamat.”   ( HR. At. Tabaini )

  1. Cara menghindari perbuatan namimah
  2. menyadari bahwa perbuatan tersebut dibenci oleh Allah SWT, dan orang melakukannya akan mendapat siksa yang pedih, baik dilam kubur maupun di akhirat.
  3. Menyadari bahwa sesama muslim adalah saudara yang harus saling menolong, bukan saling bermusuhan.
  4. Memahami bahwa perpecahan akan berakibat sangat merugikan bagai semua elemen masyarakat.
  5. Menumbuhkan dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pasti kita pernah berfikir dong buat ngelakui kejahatan lewat akhlaq tercela. Ya, keuali bagi mereka yang ngga berfikir pastinya

Print Friendly, PDF & Email
Akhlakku Dan Al Quran
Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI