Tradisi Bullying, Tradisi Dzalim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sobat qur’an, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-nya dimanapun kalian berada. Yupss kali ini admin akan memberikan sedikit informasi tentang Tradisi Bullying yang makin menjadi – jadi di kalangan remaja jaman sekarang.

Bercanda atau bergurau adalah suatu hal yang lumrah dilakukan manusia. Hal ini dilakukan agar nuansa pergaulan kita tidak terkesan monoton dan garing. Perlu adanya gurauan agar kita tersenyum dan tertawa untuk melepaskan berbagai macam kepenatan. Namun terkadang candaan kita melebihi batas wajar sehingga menimbulkan preseden yang buruk bagi sekelilingnya.

Islam sebagai agama yang damai, menolak segala upaya “perusakan” baik itu dalam bentuk fisik atau pun non-fisik. Upaya perusakan fisik seperti memukul, meninju, atau merusak barang orang lain. Sedangkan upaya perusakan non-fisik seperti merusak mental, psikologis, dan lain sebagainya.

Rasulullah Saw dengan wibawa dan kharismanya, tetaplah seorang manusia biasa yang juga memerlukan canda dan tawa dalam kesehariannya. Hal ini bisa dilihat dalam petikan hadis berikut :

“Suatu ketika Rasulullah Saw. mendatangi seseorang yang bernama Zahir bin Hizam atau Haram yang saat itu tengah menjual barang dagangannya. Zahir adalah sahabat yang bertubuh mungil namun Rasul Saw. menyukainya. Tiba-tiba Rasulullah Saw. mendekapnya dari belakang dan Zahir tidak mengetahuinya. “Lepaskan! Siapa ini?” tanya Zahir. Lalu ia menoleh ke belakang dan mengetahui bahwa yang mendekapnya adalah Rasul Saw. Seketika itu ia tidak lagi melawan dan membiarkan punggungnya menempel dengan dada Rasul.

Ketika sadar bahwa Zahir telah mengetahuinya, Rasul pun berseloroh, “Siapa yang mau membeli hamba ini?” “Kalau engkau menjualku wahai Rasul, demi Allah aku tidak akan laku,” Sahut Zahir. Kemudian Rasul mengatakan, “Namun tidak di hadapan Allah, kamu adalah barang mahal yang pasti laku.” Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dalam Sahih ibn Hibban, Sunan al-Bayhaqi, dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Seperti itulah gaya bercanda Rasulullah Saw kepada sahabatnya. Bercanda bukan suatu hal yang dilarang, namun kadar dan takarannya harus benar-benar diukur dan sesuaikan. Terkait hadis di atas, al-Harawi dalam Jam’ul Syamail fi Syarhil Syamail memberikan penjelasan berkenaan dengan kalimat “Siapa yang mau membeli hamba ini?” hamba yang dimaksudkan adalah hamba Allah karena semua manusia pada kenyataannya adalah hamba Allah.

Sedangkan bagaimana hamba tersebut dijual bukan bermaksud merendahkan Zahir bin Hizam, justru dalam candaan tersebut Nabi bermaksud memuliakannya. Jika dibahasakan, “Siapakah yang mau menukar hamba ini dengan yang hamba yang sepadan dengannya?” Di samping itu, candaan beliau dalam konteks di atas tidak memiliki dampak buruk bagi Zahir bin Hizam dan keduanya tampak harmonis dalam canda yang menyenangkan.

Memang benar, korban tidak membalasnya ketika di dunia, tapi bisa jadi korban akan menuntutnya ketika di akhirat. Dan anda perlu yakini, bahwa Allah tidak akan pernah melupakan tindakan kedzaliman antar-sesama hamba-Nya. Allah berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

“Janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak karena melihat siksa. (QS. Ibrahim: 42).

Kedzaliman sering kita lupakan, padahal Allah selalu menghitungnya. Jika tidak selesai di dunia, berlanjut sampai akhirat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentang orang yang bangkrut.

Beliau bersabda,

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاة وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

“Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah menghina si A, menuduh berzina si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Maka si A diberi pahala kebaikannya dan si B, si C… diberi pahala kebaikannya. Apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar (semua) kedzalimannya, dosa-dosa mereka yang dizalimi itu diambil lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim 2581)

Tidak Ada Hijab untuk Doanya

Orang yang didzalimi doanya sangat mustajab. Hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan :

“Takutlah kalian terhadap doanya orang yang didzalimi. Karena tidak ada tabir antar dia dengan Allah.” (HR. Bukhari 2448).

Dalam riwayat lain, beliau mengatakan :

“Doanya orang yang didzalimi itu mustajab..” (HR. Bukhari 3059)

Karena itulah, dulu para ulama ketakutan ketika mendzalimi orang lain. Jangan-jangan orang yang mendzalimi ini mendoakan keburukan untuknya.

Berhasil mengalahkan orang lain dalam bullying, bukan prestasi yang patut dibanggakan. Karena kita tidak diciptakan untuk bertanding saling menghina. Membully bisa jadi dosa yang tidak kita sadari, meskipun kita menganggapnya membahgiakan. Jadi, cobalah mulai dari sekarang kita belajar untuk lebih menjaga lisan kita dalam berbicara. Sekian terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Print Friendly, PDF & Email
Apa hukum bullying menurut pandang islam ???
Tag pada:    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI