Assalammu’alaikum…

Siapa pun kita sebenarnya mempunyai kesempatan untuk bisa menjadi hafidz Al-Qur’an, penghafal Al-Qur’an, penjaga kemurnian Al-Qur’an. Jaminan mudahnya Al-Qur’an untuk dihafal pun sebenarnya sama sekali tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu saja. Jaminan-Nya bahkan berlaku untuk siapa pun yang penting ada tekad dan kemauan, serta yang enggak kalah pentingnya adalah bersedia meninggalkan perilaku maksiat seperti pacaran ini. Kenapa? Karena bisa saja jaminan Allah itu tidak sampai kepada kita karena terhalang oleh maksiat yang enggak pernah kita tinggalkan.

Rasulullah bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim).

    Dari hadits Nabi Muhammad SAW diatas, semua perbuatan zina itu masuk dalam satu perkara yaitu pacaran. Bahkan, tidak ada yang lebih dekat dengan perbuatan zina di zaman sekarang ini melebihi pacaran. Walaupun banyak yang berdalih bahwa tidak semua pacaran itu berujung pada perbuatan zina, namun perlu diketahui bahwa hampir setiap perbuatan zina itu diawali dengan pacaran.

Kalau lah semua hal yang dilakukan dalam kehidupan ini di landaskan dengan Al-Qur’an, maka sudah barang tentu seorang hafidz tidak akan melakukan pacaran. Karena Allah SWT. sudah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS.Al Israa. ayat 32)

Jika kita merujuk pada tafsiran para ulama , bahwasanya Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas dengan berkata :

Bahwa Allah SWT, mengharamkan hamba-hambaNya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan meyebabkan terjadinya zina.

Seperti dalam firman Allah SWT. diatas bahwa kita dilarang mendekati zina apalagi melakukannya. Lantas apa hubungannya dengan pacaran? Hubungan ayat diatas dengan pacaran adalah saat kita berpacaran biasanya para anak muda yang memiliki pacar sering mengajak pacarnya makan, main, atau yang lainnya dan itu biasa dilakukan hanya berdua saja atau khalwat, nah didalam praktek pacaran itu bisanya juga saling pegang tangan antar lawan jenis yang bukan mahromnya, kalo sudah saling berpegangan tangan seperti itu sudah masuk zina dong, jelas mereka sudah bersentuhan tanpa alas yang biasanya dibumbui oleh rasa nafsu kecil, berbuatan seperti itu sudah termasuk zina apalagi sampai melebihi dari hal itu, na’udzubillah.

 

Terkhusus bagi para penghafal Al-Qur’an, pacaran merupakan perbuatan yang sangat “Fatal”.

Mengapa demikian? Ada beberapa akibat yang akan terjadi pada penghafal Al-Qur’an yang menjalin hubungan haram di luar pernikahan alias pacaran. Berikut ini akibat yang terjadi pada penghafal Al-Qur’an yang pacaran :

1. Hilangnya Hafalan

Hilangnya hafalan merupakan suatu musibah yang amat besar bagi para penghafal Al-Qur’an. Hal ini tidak lah terjadi melainkan karena adanya perbuatan maksiat yang dilakukan oleh penghafal Al-Qur’an itu sendiri.

2. Sulit dalam menghafal

Sulit dalam menghafal atau pun tidak bisa masuknya hafalan Al-Qur’an, padahal sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini juga dapat terjadi karena dosa yang kita lakukan dari perbuatan pacaran.

3. Adanya Gangguan Ketika Menghafal

Ketika menghafal Al-Qur’an, ada saja gangguan yang datang untuk menghambat kita dalam menghafal. Padahal, sebelum pacaran gangguan itu engga pernah ada. Dan walau pun ada tidak mengganggu dalam menghafal.

4. Malas dalam Menghafal dan Muraja’ah

Ini adalah petaka bagi seorang Hafidz Al-Qur’an. karena jika seorang hafidz sudah malas dalam menghafal dan memuraja’ah hafalannya, secara tidak langsung ini membuatnya semakin menjauh dari Allah SWT.

Jadi, bagaimana mau diakui sebagai keluarga Allah,kalau masih berada dalam kemaksiatan?

Nah, sudah jelas kan bahwa apa-apa yang mendekati zina itu haram apa lagi sudah masuk kedalam zina sudah pasti haram, oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman janganlah mendekati zina itu terutama pacaran, dari pada pacaran dan belum pasti itu jodoh atau bukan ,dan masih bukan mahromnya mending tahan dulu tuh hawa nafsu nya. Nah, kalau memang sudah tidak bisa mengontrol nafsu nya, cara paling efektif ialah dengan pacaran juga, tapi setelah menikah tentunya. Selain sudah halal, pacaran setelah nikah itu banyak keberkahan nya loh…

Jadi, kalian sudah tau kan bagaimana hukum nya orang yang mendekati zina. Oleh karena itu coba deh kalian pikirkan lagi apa akibat kalian jika pacaran atau melakukan hal lainnya yang mendekati zina. INGAT! sekarang kita hidup di AKHIR ZAMAN mendekati KIAMAT. untuk itu Jauhi Zina Dekati Sang Pencipta!

Print Friendly, PDF & Email
Bahayanya Pacaran bagi Para Penghafal Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI