Connor McGovern Jersey  Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al Qur’an Sampai Akhir Zaman
  1. Pembagian Al Qur’an

Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dan terdiri atas 114 surat. Surat terpanjang di dalam Al Qur’an terdiri atas 286 ayat, yaitu Al Baqarah, sedangkan surat-surat terpendek terdiri dari 3 surat, yaitu al-‘Ashr, al-Kautsar, dan an-Nashr. Surat-surat di dalam Al Qur’an dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu surat Makkiyah dan Madaniyyah.

Terjadi sedikit perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai jumlah ayat yang terdapat di dalam Al Qur’an. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al Qur’an adalah 6.236, sementara sebagian lagi menyatakan 6.666. Adanya perbedaan mengenai jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali at-Taubah). Kemudian tentang kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin, Alif Lam Miim, Ha Mim, dan sebagainya. Sebagian ulama ada yang memasukkannya sebagai ayat, ada pula yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat.

Untuk memudahkan pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al Qur’an dalam 30 juz yang sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al Qur’an). Kemudian, masing-masing hizbtersebut dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’ (seperempat), an-nishf (seperdua), dan ats-tsalasah (tiga perempat). Selain itu, Al Qur’an dibagi pula dalam 554 ruku’, yaitu bagian yang terdiri atas beberapa ayat. Sebagai penanda, maka pada setiap satu ruku’ diberi tanda berupa huruf ain di pinggir. Surat yang panjang berisi beberapa ruku’, sedang untuk surat-surat yang pendek hanya berisi satu ruku’.

Tanda pertengahan Al Qur’an atau Nishf Al Qur’an terdapat pada surat al-Kahfi ayat 19, yaitu pada lafalwalyatalaththaf, yang artinya adalah, “hendaklah ia berlaku lemah lembut”.

2. Al Qur’an sebagai Mukjizat

Mukjizat memiliki arti sesuatu yang luar biasa, yang tiada mungkin dan tidak akan kuasa manusia menciptakannya. Mukjizat adalah sesuatu yang di luar kesanggupan manusia. Seluruh nabi-nabi Allah dikaruniai mukjizat. Mukjizat terbesar yang dikaruniakan Allah swt kepada Nabiyullah Muhammad saw, di samping mukjizat-mukjizat yang lain, adalah mukjizat yang akan abadi hingga hari akhir, yakni Al Qur’an. Mukjizat Al Qur’an terletak pada janji Allah swt yang menjamin dengan diri-Nya sendiri akan pemeliharaan dan penjagaannya.

”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Selain penjagaannya yang dijamin oleh Allah swt, nilai mukjizat itu juga terletak pada fashahah danbalaghahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada tara bandingannya. Mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengan Al Qur’an. Allah sendiri telah menantang melalui kitab-Nya terhadap orang-orang atau jin yang berupaya menandingi firman-Nya dengan mengatakan:Kendati pun berkumpul jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan Al Qur’an, mereka tidak akan dapat membuatnya.

Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya walaupun sebagian mereka membantu sebagian (yang lain).”(QS. Al-Israa’ [17]: 88)

Beberapa kisah dalam Sirah Nabawiyah meriwayatkan keindahan susunan dan gaya bahasa Al Qur’an yang mampu menundukkan hati para sastrawan kafir Arab. Seperti dikisahkan dalam salah satu riwayat berikut ini.

 Ketika beberapa pemimpin Quraisy berkumpul merundingkan cara-cara menaklukkan Rasulullah saw., mereka bersepakat mengutus Abu Walid, seorang sastrawan Arab yang hampir taktertandingi di seluruh jazirah Arab, untuk meminta Rasulullah meninggalkan dakwahnya. Tawaran yang diberikan pun tidak main-main. Rasulullah akan diberi pangkat, harta, dan apa pun yang dikehendaki. Ketika menghadap Rasulullah, Abul Walid mendengar Rasulullah saw membacakan surat Fushilat dari awal sampai akhir, yang diantaranya berbunyi:

”Haa Miim, diturunkan dari Dzat yang Maha Rahman dan Rahiim, Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan tetapi kebanyakan dari mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang engkau seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; Sesungguhnya kami bekerja (pula).” (Q.S. Fushilat [41]: 1-5)

Mendengar ayat-ayat Allah tersebut, Abul Walid tak mampu berkata-kata. Akal dan hatinya tertarik dan terpesona pada keindahan dan gaya bahasa Al Qur’an. Ia termenung-menung. Akal dan hatinya membenarkan, tetapi hawa nafsunya menolak. Abul Walid kembali kepada kaumnya tanpa mampu berkata sepatah pun di hadapan Rasulullah saw.

Kaumnya yang menunggu gelisah, semakin gundah melihat wajah Abul Walid yang tak seperti biasanya. ”Apa hasil yang engkau bawa, wahai Abul Walid? Mengapa engkau bermuram durja?”

Abul Walid menjawab, ”Aku belum pernah mendengar kata-kata seindah itu, seumur hidupku. Itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Al Qur’an itu bagaikan pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam ke dalam tanah, susunannya manis dan enak didengar. Itu bukan kata-kata manusia, ia adalah tinggi dan tiada yang mengatasi.”

Mendengar jawaban ini, kaumnya menuduh Abul Walid telah berkhianat dan cenderung kepada Islam.

Reaksi sebagian besar para ahli sastra dan syair Arab terhadap tantangan Al Qur’an adalah bungkam, terdiam sejuta bahasa, tiada yang bernyali untuk tampil ke muka, karena ketidaksanggupan mereka dan ketakutan akan cemoohan dan hinaan. Namun sebagian yang lain memberanikan diri menirukan Al Qur’an dan mengangkat dirinya sendiri sebagai nabi baru. Orang-orang tersebut di antaranya adalah Musailamah Al-Kadzab, Thulaihah, dan Habalah bin Kaab. Namun, mereka semua hanya mempersembahkan kegagalan, cemooh, dan hinaan kaumnya sendiri.

Salah satu ’karya’ Musailamah yang mencoba menandingi Al Qur’an adalah:

Yaa dhifda’u dhifda ’aini, naqyii maa tunaqiina, a’laaki fil maa’i, wa asfalaki fiith thiini.”

”Wahai katak anak dari dua katak, bersihkanlah apa-apa yang engkau bersihkan, bahagian atas engkau di air dan bahagian bawah engkau di tanah.”

Seorang sastrawan Arab termasyur, al-Jahiz, memberikan penilaian atas gubahan Musailamah tersebut dalam bukunya ”al-Hayawan”. Katanya, saya tidak mengerti apa yang menggerakkan jiwa Musailamah menyebut katak dan sebagainya itu. Alangkah kotornya gubahan yang dikatanya sebagai ayat Al Qur’an dan dikatakannya turun sebagai wahyu.

Syekh Muhamad Abdul dalam kitabnya ”Rasaalatut Tauhid”, menjelaskan bagaimana ketinggian dan kemajuan bahasa Arab pada masa turunnya Al Qur’an. Al Qur’an diturunkan pada suatu masa–yang telah sepakat ahli-ahli riwayat berkata– yang amat gemilang. Itu ditinjau dari kemajuan bahasanya. Pada masa itu, banyak sekali terdapat ahli-ahli sastera dan ahli-ahli pidato.

Kemudian ia berkata tentang tantangan Al Qur’an terhadap ahli-ahli sastra tersebut. Sungguh benar, bahwa Al Qur’an adalah mukjizat, telah berlalu masa yang panjang, telah silih berganti datangnya angkatan demi angkatan sastrawan. Al Qur’an tetap berlaku, tak seorang pun yang dapat menandinginya dan menjawab tantangannya. Semua kembali dengan tangan hampa, karena memang lemah dan tiada daya.

Print Friendly, PDF & Email
Fakta Kemahaagungan Allah Menjaga Kemurnian Al Qur’an Sampai Akhir Zaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI