Assalamualaikum
Sahabatku……
Sudahkah kita menundukan pandangan??
Jika belum semoga setelah membaca kisah ini kita akan belajar untuk menundukan pandangan.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُون

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Q.S. An-Nur : 30

[رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].

((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ))

Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani)

Suatu hari, Imam Syafi’i sedang belajar dan menghafal sejumlah hadits dihadapan gurunya, Imam Malik. Meski matahari bersinar cukup terik, namun angin berhembus cukup kencang sehingga menimbulkan suasana sejuk didalam ruangan. Udara sejuk menyelusup kedalam ruangan mereka melalui sisi sisi jendela. Sehingga kesejukannya menghempas wajah-wajah mereka yang menempati ruangan itu.

Hafalan Imam Syafi’i sangat luar biasa. Sesekali Imam Malik tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya sebagai isyarat ia mengiyakan hafalan Imam Syafi’i. Setelah selesai, Imam Malik memberikan komentar, “Bagus”, kata Imam Malik.

“Alhamdulillah”, kata Imam Syafi’i.

“Aku melihat Allah Ta’ala telah menyinari hatimu”, kata imam Malik, “Oleh karena itu janganlah engkau padamkan dengan kemaksiyatan.”

Suatu hari Imam Syafi’i sedang berjalan disalah satu pojok kota. Angin berhembus lumayan kencang. Lelaki yang Hafal Qur’an sejak usia delapan tahun itu terlihat tenang. Beberapa penduduk kota pun turut beraktifits, beberapa wanita juga berjalan didepan dan sekelililngnya. Angin kembali berhembus. Imam Syafi’i melanjutkan perjalanannya dengan begitu santai namun dengan langkah penuh kepastian, sambil sesekali merapihkan jubahnya yang tersingkap karena hembusan angin yang begitu kuat.

Wanita-wanita penduduk kota itu terus berlalu lalang disekitar perjalanan Imam Syafi’i. Dan tiba-tiba, ketika Imam Syafi’i meluruskan pandangannya dengan menatap kearah depan, dilihatnya pakaian salah satu wanita didepannya tersingkap karna hembusan angin sehingga terlihat betis wanita itu oleh Imam Syafi’i. Wanita itu berusaha merapihkan kembali pakaiannya. Menyadari kejadian itu tanpa sengaja disaksikan oleh Imam Syafi’i yang kebetulan berada dibelakangnya, rona wajah wanita itu tampak memerah diliputi rasa malu dan rasa bersalah. Imam Syafi’i pun tertegun. Dari bibirnya tiada lepas kalimat istighfar diucapkan oleh Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i melanjutkan perjalanannya, ia mempercepat langkahnya, sambil terus melafalkan kalimat istighfar. Langkahnya semakin cepat. Terburu-buru. Iman Syafi’i terus berjalan, segera menuju masjid. Seseorang yang melihat keanehan dalam diri Imam Syafi’i bertanya, kenapa beliau tergesa-gesa ke masjid. Imam Syafi’i menceritakan peristiwa yang baru saja dialalaminya.

“Saya khawatir karena Kemaksiyatan yang saya lakukan bisa menyebabkan banyak hafalan saya yang akan hilang”, jawab Imam Syafi’i dengan  penuh kekhawatiran dan penyasalan. Dan konon, setelah kejadian itu, Imam Syafi’i benar-benar kehilangan 1 juz hafalan Qu’annya. Masya Allah.

Apa hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik dari kisah ini? Bahwa kemaksiyatan dapat menjadi penyebab tertutupnya hati seseorang untuk menerima suatu ilmu.

Huft…kebayangkan kalo Imam Syafi’i yang derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan kita pernah mengalami kejadian yang merugikan, namun ia langsung bertaubat hanya karena penglihatan yang tidak disengajanya. beda dengan jaman sekarang bukannya taubat malah terus dilirik. *eh

Padahal pada masa itu hampir semua perempuan mengenakan pakaian yang menutup aurat beda dengan jaman sekarang yang malah kebalikannya yaitu membuka aurat dengan sesuka hatinya agar dilihat oleh lawan jenisnya. Ini merupakan racun syaitan yang telah merasuk dalam jiwa-jiwa sebagian kaum muslimin. Istilah “Cuci mata” adalah istilah salah yang berasal dari syaitan yang benar ialah “Ngotori mata”.

Untuk itu bagi kita yang mau sungguh-sungguh berhijrah dan terkhusus untuk kita para penghafal Qur’an mulai detik ini deh kita sama-sama berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu yang cantik. Salah satunya ialah menjaga pandangan. Ya walaupun kita berada di jaman sekarang.

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Hilang Satu Juz Karena Melihat Betis Wanita
Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI