Assalamualaikum,

Sahabat Qur’an….
Semoga hari ini baik dari hari kemarin yaa..
Dan esok lebih baik dari hari ini…
Aamiin

Dalam Al Qur’an surat Al Kahfi terdapat kisah kisah penggugah jiwa salah satunya ialah kisah Nabi Musa yang belajar dengan Nabi Khidir akibat kesombongannya yang mengaku dirinya orang yang  berilmu. Dan kita akan bahas di pertemuan kali ini.

Dari Ubay bin Ka’ab Rasulullah bersabda, “pada suatu ketika Nabi Musa berbicara dihadapan Bani Israil, Kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’

Dengan ucapan itu, Allah menegurnya, sebab Musa tidak mengembalikan pengetahuan suatu ilmu kepada Allah. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Sesunggunhnya aku memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan antara laut persia dan Romawi, hamba-ku itu lebih pandai dari pada kamu!’

Musa bertanya, ‘Ya Rabbi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?’ Maka dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu masukan kedalam suatu tempat, dimana ikan itu menghilang maka disitulah hamba-ku berada!’

Kemudian Musa pergi. Musa pergi bersama seorang pelayan bernama Yusya’ bin Nun. Keduanya membawa ikan tersebut didalam suatu tempat hingga keduanya tiba disuatu batu besar. Mereka membaringkan tubuhnya sejenak lalu tertidur. Tiba-tiba ikan tersebut menghilang dari tempat tersebut. Ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut. Musa dan pelayannya merasa aneh sekali.

Lalu keduanya menyusuri dari siang hingga malam hari. Pada pagi harinya, Musa berkata kepada pelayannya,

Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’ (QS. Al-Kahfi: 62)

Musa berkata,

‘Itulah tempat yang kita cari,’ lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.’ (QS. Al-Kahfi: 64)

Setibanya mereka di batu tersebut, mereka mendapati seorang lelaki yang tertutup kain, lalu Musa memberi salam kepadanya

Khidir (orang itu) bertanya, ‘Berasal dari manakah salam  yang engkau ucapkan tadi? Musa menjawab, ‘Aku adalah Musa. ‘khidir bertanya, ‘Musa yang dari bani Israil?’ Musa menjawab , ‘Benar!’

‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’‘ (QS. Al-Kahfi: 66–67)

Khidir berkata, ‘Wahai musa, aku ini mengetahui suatu ilmu dari Allah yang hanya Dia ajarkan kepadaku saja. Kamu tidak mengetahuinnya. Sedangkan engkau juga mempunyai ilmu yang hanya diajarkan Allah kepadamu saja, yang aku tidak mengetahuinya.’

Musa Berkata,

Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ (QS. Al-Kahfi: 69)

Kemudian, keduanya berjalan ditepi laut. Tiba-tiba lewat sebuah perahu. Mereka berbincang-bincang dengan para penumpang kapal tersebut agar berkenan membawa serta mereka. Akhirnya, mereka mengenali Khidir, lalu penumpang kapal itu membawa keduanya tanpa minta upah.
Tiba-tiba, seekor burung hinggap ditepi perahu itu, ia meminum seteguk atu dua kali teguk air laut. Kemudian, Khidir memberitahu Musa, ‘Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak sebanding dengan ilmu Allah, Kecuali seperti paruh burung yang meminum air dilaut tadi!’
Khidhir lalu menuju salah satu papan perahu, Kemudian Khidhir melubanginya. Melihat kejanggalan ini Musa Bertanya, ‘Penumpang kapal ini telah bersedia membawa serta kita tanpa memungut upah, tetapi mengapa engkau sengaja melubangi kapal mereka? Apakah engkau lakukan itu dengan maksud menenggelamkan penumpangnya?’

Khidhir menjawab,

Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku.’ Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku.’’ (QS. Al-Kahfi: 72–73)

Itulah sesuatu yang pertama kali dilupakan Musa, Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Keduanya bertemu dengan seorang anak laki-laki sedang bermain bersama kawan-kawannya. Tiba-tiba Khidir menarik rambut anak itu dan membunuhnya.
Melihat kejadian aneh ini, Musa bertanya,

Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.’ (QS. Al-Kahfi: 74)

Khidhir menjawab,

Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’ (QS. Al-Kahfi: 75)

Maka, Keduanya berjalan. Hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka kelelahan dan hendak meminta dijamu kepada penduduk negri itu, tetapi penduduk negri itu tidak bersahabat dan tidak mau menjamu mereka. Hal ini membuat Nabi Musa kesal.
Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruhnya untuk bersama memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak. Nabi Musa akhirnya terpaksa bertanya terhadap sikap Nabi Khidir. Karena pertanyaannya itu, akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa ia tidak dapat menerima Nabi Musa sebagai muridnya.
Bersyukur
Selanjutnya nabi khidir menjelaskan..
kejadian pertama
Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karna perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin. Didaerah itu tinggalah seorang raja yang suka merampas perahu milik rakyatnya.
kejadian kedua
Bahwa ia membunuh seorang anak karena kedua orangtuanya adalah pasangan  yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematiannya anak yang ini digantikan dengan anak yang shaleh dan lebih mengasihi kepada kedua bapak ibunya hingga ke anak cucu.
Kejadian yang Ketiga
Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah dari kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang seorang yang shaleh. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang yang menyembah berhala.

Pelajaran yang dapat dipetik :

  1. orang yang pandai dan terhormat boleh miminta orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhannya
  2. Anjuran untuk tidak sombong karena kepandaiannya, dan jika ditanyakan kepadanya, “Siapa orang yang paling pandai?” Hendaknya menjawab “Allahu a’lam (Allah yang mengetahui).”
  3. Menghukumi sesuatu berdasarkan apa yang tampak
  4. Memiliki sifat tawadhu (rendah diri) sehingga mau belajar dari siapa pun, baik yang lebih rendah kedudukannya dari dirinya. Ingatlah, sifat tawadhu adalah jalan mudah meraih ilmu
  5. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan faedah berharga, hendaklah seorang murid jangan terburu-buru membantah penjelasan gurunya. Hendaklah ia menunggu sampai penjelasannya tuntas, baru bertanya. Itulah adab yang harus dipenuhi seorang murid pada gurunya yang didapat dari kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa

Akhirnya Nabi Musa sadar dan mengerti terhadap perbuatan yang dikerjakan Nabi Khidir. Ia pun amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan Nabi Khidir yang shaleh yang dapat mengerjakan kepadanya ilmu yang tidak dipelajari, yaitu ilmu ladunni (ilmu yang berasal dari Allah SWT).

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Kisah Nabi Musa yang Berguru dengan Nabi Khidir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI