Sabtu, 20 Oktober 2018

Kunci Para Penghafal Al-Qur’an untuk Mendapatkan Keberkahan Ilmu dan Manfaatnya

Syeikh Az-Zarnuji mengatakan : Kendati para penuntut ilmu telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, namun banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Ini dikarenakan kesalahan dalam cara menuntut ilmu, dan diabaikannya syarat-syarat dalam menuntut ilmu karena barangsiapa salah jalan, tentu akan tersesat dan tidak akan mencapai tujuan.[1]

Dibawah ini merupakan Syarat-syarat yang harus diamalkan oleh penuntut agar ilmunya berkah dan bermamfaat;

  1. Mengagungkan Ilmu

Para penuntut tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya, tanpa menghormati ilmu dan guru. dan juga hendaknya para penuntut ilmu mendengarkan ilmu dan hikmah dengan rasa hormat, sekalipun sudah pernah mendengarkan masalah tersebut seribu kali.

 

  1. Mengagungkan guru

 

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili, Rasul SAW bersabda :

 

إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جِحرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada dalam sarangnya, demikian pula dengan ikan-ikan; Semuanya berdo’a untuk orang-orang yang mengajarkan kebajikan pada manusia.” [HR Tirmidzi]

Imam As-Syairazy juga berkata: “Guru-guruku berkata, Barangsiapa yang ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fiqih, dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi orang alim, maka cucunya akan menjadi orang alim”.

 

Sementara didalam kehidupan sehari-hari  syarat yang sering diabaikan oleh para penuntut ilmu pada zaman sekarang adalah tidak menghormati guru. Dalam kitab Taysirul Khallaq disebutkan seorang penunut ilmu haruslah meyakini bahwa guru mempunyai kedudukan seperti orang tua, bahkan bisa lebih tinggi, karena orang tua memelihara jasadnya, tapi guru berusaha memelihara jiwanya. Orang tua memperhatikan urusan dunia kita, sementara guru memperhatikan urusan akhirat kita.[2] Coba kita perhatikan! Kita mengenal Allah, para Nabi, bahkan kita bisa membaca Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran Islam sehingga bisa menggali lebih dalam syariat Islam, namun terkadang kita lupa dari manakah kita mengenal semua itu? Tidaklah mungkin kita kenal semua itu tanpa bimbingan guru.

 

Menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izinnya. Hendaknya tidak banyak bicara di hadapan guru, tidak bertanya sesuatu apabila guru sedang letih atau penat atau bosan. harus menjaga waktunya, jangan mengetuk pintunya, tetapi sebaliknya menunggu sehingga beliau keluar.

Salah seorang pembesar negeri Bukhara duduk dalam majlis pengajian, di tengah-tengah pengajian, dia sering berdiri. Lalu teman-temannya bertanya mengapa berbuat demikian. Dia menjawab, sungguh putra guruku sedang bermain di jalan oleh kerana itu jika aku melihatnya aku berdiri untuk menghormatinya.

 

Al Qadhi Fahruddin adalah seorang imam di daerah Marwa yang sangat dihormati oleh para pejabat negara. Beliau berkata,  “Aku mendapat kedudukan ini kerana aku menghormati guruku, Abi Yazid Addabusi. Aku selalu melayani beliau, memasak makanannya, dan aku tidak pernah ikut makan bersamanya”.

 

  1. Memuliakan Kitab

 

Para penuntut ilmu dilarang meletakkkan kitab dekat kakinya ketika duduk bersila. hendaknya kitab tafsir diletakkan di atas kitab-kitab lain, dan hendaknya tidak meletakkan sesuatu di atas kitab. Penuntut harus bagus dalam menulis kitabnya. Tulisannya harus jelas, tidak terlalu kecil sehingga sulit dibaca. Imam Abu Hanifah pernah melihat muridnya yang tulisannya sangat kecil sehingga tidak jelas, lalu beliau menegurnya,

“Jangan terlalu kecil dalam menulis, karena jika kamu sudah tua, pasti kamu menyesal, dan bila kamu mati, kamu akan dimaki orang yang melihat tulisanmu. (yakni jika kamu sudah tua dan pandangan mata sudah lemah, maka akan menyesal dengan perbuatan itu).

Seharusnya kitab itu juga dibentuk empat segi, begitu yang biasa dikerjakan oleh Imam Abu Hanifah. Supaya mudah dibawa dan dibaca dan juga tidak memakai tinta merah dalam menulis kitab, kerna hal itu kebiasaan para filosof, bukan kebiasaan Ulama salaf. Bahkan guru-guru terdahulu ada yang tidak mahu memakai kenderaan berwarna merah.

  1. Menghormati teman

Termasuk kuncinya agar ilmu kita bermamfaat ialah dengan menghormati teman yaitu dengan tidak membeda-bedakan sara, membantu teman yang kesulitan, bersikap sopan santun, berbicara dengan tutur kata yang baik, dan berfikir sebelum bertindak.

  1. Menghindari Akhlak tercela

Cara menghindari akhlak tercela, antara lain dengan:

  • Selalu mengingat Allah di mana saja berada
  • Menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan hidup yang abadi adalah setelah kita melewati yaumul hisab nanti dikemudian hari
  • Selalu berdzikir kepada Allah SWT
  • Selalu bertaubat dan beristigfar
  • Bergaul dengan orang-orang yang saleh, karena pergaulan yang tidak islami akan membawa malapetaka bagi diri kita.
  • Selektif dalam memilih teman
  • Menjauhkan diri dari tempat-tempat yang di dalamnya terdapat maksiat
  • Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT
  • Meneladani kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang yang saleh.

 Sumber:

[1] Ta’lim muta’allim

[2] Taysirul Khallaq

Print Friendly, PDF & Email
Kunci Para Penghafal Al-Qur’an untuk Mendapatkan Keberkahan Ilmu dan Manfaatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI