Menghafal AlQuran ibarat masuk ke sebuah taman yang indah. Mestinya Kita akan merasa betah, bukan sebaliknya ingin buru-buru keluar. Menghafal Alquran namun tak hafal-hafal, adalah cara Allah memuaskan Kita menikmati taman itu. Masya Allah, Tersenyumlah…

Ketika Kita menghafal AlQuran, meskipupn tak hafal-hafal, maka dapat dipastikan, paling tidak, selama menghafal, mata Kita, telinga Kita, dan lisan Kita tidak sedang melakukan maksiat. Semakin lama durasinya, semakin bersih panca indera Kita.

Memegang mushaf adalah kemuliaan, dan melihatnya adalah kesejukan. Kita sudah mendapatkan hal itu saat menghafal kendati tak hafal-hafal. Adakalanya kita banyak dosa. Baik yang terasa maupun tak terasa. Dan menghafal Alquran walaupun tak hafal-hafal adalah kifaratnya, di mana, barangkali, tidak ada kifarat lain kecuali itu.

Tak hafal-hafal saat menghafal Alquran adakalanya, karena Allah sangat cinta kepada kita. Allah tak memberikan ayat-ayat-Nya sampai kita benar-benar layak dicintai-Nya. Jika kita tidak senang dengan keadaan seperti ini, maka pertanyaannya adalah kepada siapa sebenarnya selama ini kita mencintai ? Ini yang disebut “dikangenin ayat”.

Menghafal Alquran tak henti karena tak hafal-hafal tentu secara fisik melelahkan. Akan tetapi inilah lelah yang memuaskan, karena setiap lelahnya dicatat sebagai amal sholeh. Semakin lelah semakin sholeh. Menghafal tak hafal-hafal, tapi terus menghafal tanpa lelah, tandanya Kita di pintu hidayah. Tandanya jauh dari nafsu. Jauh dari nafsu tandanya dekat dengan ikhlas. Dan ikhlas lahirkan mujahadah yang hebat.

AlQuran, seluruhnya, adalah kebaikan. Menghafal AlQuran tak hafal-hafal berarti Kita telah berlama-lama dalam kebaikan. Semakin lama semakin baik. Bukankah Kita menghafal untuk mencari kebaikan ? Ketika Kita menghafal AlQuran, berarti Kita sudah punya niat yang kuat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa salam menyebut 70 syuhada’ dalam tragedi sumur Ma’unah sebagai qari (hafizh), padahal hafalan mereka belum semua. Ini karena seandainya mereka masih hidup, mereka akan terus menghafal. Jadi, meski Kita menghafal tak hafal-hafal, sesungguhnya Kita adalah hafidzh, selama tak berhenti menghafal. 

Istiqamah… Istiqamah dan terus ISTIQAMAH… Itulah jalan kemuliaan. Semoga Kita semua senantiasa diberikan kenikmatan bercengkrama dan berlama-lama dengan Alquran. Aamiin.

Print Friendly, PDF & Email
MENGHAFAL ALQURAN TAK HAFAL-HAFAL MERUPAKAN KEBAIKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI