Banyak ilmuwan muslim yang mereka sukses dan menjadi ilmuwan dunia hingga ilmunya telah memberi manfaat besar dalam kehidupan kita saat ini. Sebut saja Ibnu Sina – Bapak Kedokteran dunia yang dikenal oleh orang-orang barat dengan nama Avicena, Al Khawarizmi (penemu Ilmu Aritmatika), Al Farabi (Filosof Islam), Ibnu Jabir Al Hayyan (Bapak Kimia Modern), Ibnu Jazari (Perintis Teknologi Modern & Robot) dan lain-lainnya masih banyak lagi. Kesemua ilmuwan ini tidak menjadi besar dan hebat begitu saja. Pada Usia yang sangat kecil mereka telah dekat dengan Al Qur’an. Bahkan Ibnu Sina pada usia 10 tahun sudah menghafal Qur’an 30 Juz, subhanallah.

Mereka tidak hanya menguasai satu bidang ilmu. Saat ini dibelahan bumi Arab, saudara-saudari kita di Palestina mereka berlomba-lomba menghafal qur’an 30 Juz dalam usia yang relatif masih sangat kecil. Dan ini yang menjadi kekhawatiran orang-orang Yahudi akan muncul para pemimpin-pemimpin muslim yang cerdas dan tangguh dari anak-anak penghafal Qur’an ini.

Di Indonesia, dari beberapa hal yang saya amati dari interaksi saya dengan temman-teman dan rekan kerja (Maiyah, al Hafidzoh, Ir. Maya, Al Hafidzoh), Dwi Nurjanah, al Hafidzoh, MAria Ulfah, al Hafidzoh, siswa-siswi juga anak-anak sahabat yang telah dibiasakan dekat dengan Qur’an sejak kecil. Saya melihat kecenderungan peningkatan kecerdasan siswa-siswi dan para krucil saya…luar biasa. Terlihat perbedaan antara mereka yang tidak lancar membaca, menghafal dan yang hafalan Qurannya lebih banyak. 3,5 tahun bersama mereka, mengamati perkembangan mereka belajar dan berubah menjadi lebih sholeh dan smart.

Mereka yang hafalan Qurannya bagus dan lebih banyak terlihat mereka lebih siap belajar dan mampu memahami hal-hal yang bagi usianya masih rumit tapi menjadi mudah untuk mereka, Keep Fighting My litle stars ^_^. Ayasy (anak seorang sahabat) dalam usia 11 tahun telah menghafal 30 Juz, dalam akademiknya ia mengalami lompatan kelas dan lulus lebih awal dari teman-teman satu angkatannya. Tak hanya unggul dalam akademis, dia pun menjadi juara dalam sebuah kompetisi beladiri internasional. Krucil-krucilku Rahma & Zahra (the twins) sejak kecil alhamdulillah mereka dibiasakan membaca Qur’an, serta merta menempatkan mereka selalu menjadi juara di kelasnya.

Pembiasaan dekat dengan Qur’an sejak dalam kandungan salah satu cara membiasakan mereka dekat dengan Quran ketika mereka besar. Mamah Tien Soekresno dalam perbincangan kami di bulan Ramadhan beberapa tahun silam mengatakan “sejak dalam kandungan, janin yang dibiasakan diperdengarkan bacaan Quran akan terbentuk sebuah ‘space’ di otaknya sebuah kemampuan lain yaitu terbiasa dengan bacaan yang baik, Qur’an”. Bacaan Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak.  Dan tidaklah heran kita menemukan anak di usianya yang relatif kecil sudah menghafal Qur’an, Hauzah Ilmiah Qom yang paling belia (5 tahun) dan dengan kecerdasannya ini anak pertama dari negeri Iran ini berhasil memperoleh titel Doktor kehormatan dari salah satu universitas Inggris di usianya yang ketujuh.

Berbagai penelitian membuktikan, usia dini (0-6 tahun) merupakan periode atau masa keemasan (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Kecerdasan anak mencapai 50 persen pada usia 0 – 4 tahun, sebanyak 80 persen pada usia delapan tahun, dan mencapai 100 persen pada usia 18 tahun. Ini berarti masa emas seorang anak berada pada usia dini, sebelum berusia 7 tahun. Pada masa emas, kecepatan pertumbuhan otak anak sangat tinggi, mencapai 50 persen dari keseluruhan perkembangan otak anak selama hidupnya.

Di masa ini, seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa. Manfaatkanlah kehebatan otak anak-anak kita…biasakanlah dengan hal-hal positif.  Insya Allah akan melahirkan pribadi-pribadi sholeh, smart dan tangguh…menjadi “Generasi Harapan” Pemimpin masa depan yang hebat, Amiiinn. Bila orangtua tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan jalan membantu dari belakang, maka tetap tidak akan mempengaruhi kemampuan otak anak dalam menganyam neoron, karena kesempatan untuk memperkuat koneksi otak terbuka luas selama masa anak-anak. Tetapi tentu akan semakin baik bila orangtua pun ikut aktif membantu.

Usia menghafal tidak hanya sampai 18 atau ada yang mengatakan 21 tahun, bagi kita-kita yang usianya sudah berlanjut…masih ada harapan. Dalam buku HAFAL AL-QUR’AN TANPA NYANTRI penyusun: Abdud Daim Al Kahil. penerbit: Pustaka Arafah– Ummu Sholih (Indonesia) berhasil menghafal Quran 30 juz pada usia yang telah lanjut 70 tahun…subhanallah. Ini berarti masih ada harapan…Ayo diri SEMANGAT ! Tularkan kebaikan ini untuk diri dan untuk orang-orang disekitar yang kita cintai.

Print Friendly, PDF & Email
Menghafal Qur’an: Fitur Meningkatkan Kecerdasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI