Nasihat untuk Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an

Aku memohon kepada Allah agar menolong kita semua untuk bisa menerapkannya.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ

“Dipalingkan dari padanya orang yang dipalingkan.” (Adz-Dzariyat: 9)

Maksudnya, akan dipalingkan dari Al-Qur’an orang yang dipalingkan oleh Allah sebagai hukuman terhadapnya disebabkan dosa-dosanya dan keberpalingannya dari Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Saudaraku, siapa yang belum memulai hafalan Al-Qur’an, hendaklah segera memulainya.

Siapa yang telah menghafalnya, tetapi mengabaikan muraja’ahnya, maka susullah!

Siapa yang belum memiliki wirid berupa tilawah Al-Qur’an harian, hendaklah ia bersungguh-sungguh untuk mengupayakan!

Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu!

Karena sesungguhnya menghafal seluruh Al-Qur’an, atau sebagian yang ringan darinya, teliti menghafalnya serta membacanya sepanjang siang dan malam, mempunyai kelezatan yang membuatmu lupa akan penatnya bersusah payah (saat menghafal).

Larilah dari hiruk-pikuk kesibukanmu!

Ambillah kesempatan dari beberapa menit waktumu!

Bangunlah dari tidurmu!

Semoga engkau dapat menyusul rombongan orang-orang bertaubat dan merasakan kelezatan ahli ibadah.

 

Bersujud dan bertaqarrublah!

Buatlah untuk dirimu wirid harian berupa tilawah Al-Qur’an.

Jangan pernah engkau tinggalkan walau bagaimanapun.

Buatlah pula untuk diriku dzikir terus-menerus: setiap hari.

Bertasbihlah. Beristighfarlah. Bertahlillah (ucapkan: Laa Ilaaha illallaah).

Bershalawatlah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

 

Berdoalah: memohon kebaikan untuk dirimu, kedua orang tuamu, serta untuk orang yang engkau cintai maupun yang tidak engkau cintai.

Jadilah engkau orang yang menyebabkan sadarnya sekian banyak orang.

 

Di antara bentuk keberkahan Al-Quran adalah bahwa Allah memberi keberkahan pada akal para pembaca dan penghafalnya.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Abdul Malik bin Umair mengatakan: “Manusia yang paling terjaga akalnya adalah para penghafal Al-Qur’an.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Manusia yang paling jernih pikirannya adalah para penghafal Al-Qur’an.”

Imam Al-Qurthubi berkata: “Barangsiapa yang hafal Al-Qur’an, maka ia akan merasakan kenikmatan pada akalnya meski telah mencapai umur 100 tahun.”

Sebuah penelitian ilmiah menyimpulkan bahwa sesungguhnya menghafal Al-Qur’an dan membacanya dapat menguatkan daya ingat.

Imam Ibrahim Al-Maqdisi pernah memberikan wasiat kepada muridnya, Abbas bin Abdud-Dayim rahimahumullah:

“Perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Jangan pernah meninggalkannya. Karena sesungguhnya akan dimudahkan bagimu urusanmu sebanyak bacaan yang engkau baca.”

 

Ibnu As-Shalah berkata: “Disebutkan bahwa para malaikat tidak diberi keutamaan membaca Al-Qur’an. Maka dari itu mereka ingin sekali mendengarkannya dari manusia!”

Maka membaca Al-Quran adalah suatu kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan manusia.

Abu Az-Zinad berkata: “Aku pernah keluar pada waktu sahur ke masjid Nabawi. Dan tidaklah aku melewati satu rumah pun kecuali di dalamnya ada yang membaca Al-Qur’an.”

Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) berkata: “Aku tidaklah melihat sesuatu yang dapat memberi gizi kepada akal dan jiwa, menjaga tubuh serta mendatangkan lebih banyak kebahagiaan melebihi kegiatan memandang terus-menerus kepada Kitabullah Subahanahu wa Ta’ala.”

Ikatlah dirimu dengan Al-Qur’an, niscaya engkau mendapatkan keberkahan.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan.”

 

Sebagian mufassir berkata: “Kami sibuk dengan Al-Qur’an, maka kami tercurahi banyak keberkahan dan kebaikan di dunia.”

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau ikat hati kami dengan hafalan Al-Qur’an.

Agar Engkau anugerahkan kepada kami rezeki berupa membaca dan mentadabburi Al-Qur’an sebagaimana yang Engkau ridhai, serta anugerah berupa pengamalan Al-Qur’an.
Ini adalah harta simpanan yang Allah percayakan  disimpan didalam dadamu, dan ini adalah kedudukan yang Allah pilihkan  atasmu untuk menempatinya, dan ini adalah kemuliaan yang engkau raih  dimana pada hakikatnya adalah tanggung jawab yang dibebankan pada pundakmu, amanat yang wajib atasmu menunaikannya. Maka selayaknya atasmu   memuliakan Al-qur`an dalam dadamu dan menjaga dirimu dari penghambaan   terhadap ahli dunia. Juga wajib engkau melazimi perilaku tawadhu, tenang,   serta berwibawa. Hati-hatilah dari kesombongan dan takabbur tatkala engkau   mendengar pujian manusia atasmu. Maka ketahuilah bahwasannya riya dapat   meluluh-lantakkan amal-amal shalihmu. Bersemangatlah dalam melaksanakan  kebaikan serta menjauhi maksiat maupun syubhat.

Berkata Abdullah       bin Mas’ud radhiallahu’anhu: “Adalah selayaknya bagi para penghapal Qur`an       terbedakan saat malamnya ketika manusia terlelap, tatkala siangnya ketika       manusia berbuka, tatkala sedihnya ketika manusia bergembira, tatkala       menangisnya ketika manusia tertawa, tatkala diamnya ketika manusia banyak       bicara, dan dengan kekhusyuannya ketika manusia lalai”

Dari       Alhasan Bashri rahimahulloh: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian       menganggap Al-qur`an sebagai kumpulan surat dari Rabb mereka, oleh       karenanya mereka mentadabburinya disaat malam serta mengamalkannya di       siang hari.”

Dari Fudhoil bin `iyadh rahimahulloh: “Pembawa       (penghapal) al-quran adalah pembawa panji Islam, tidak selayaknya dia       bergurau bersama orang-orang yang bergurau, tidak lupa bersama orang-orang       yang lupa, serta tidak banyak cakap bersama orang-orang yang banyak cakap,       sebagai pemuliaan terhadap haqnya Al-quran”

Pertama dari apa-apa       yang seharusnya bagi penghapal Quran adalah bertakwa kepada Allah dalam       semua keadaan, bersikap waro’ dalam makan, minum, pakaian, serta       perilakunya, tanggap terhadap zaman dan kerusakan penduduk dunia. Maka dia       memperingatkan mereka dalam beragama, menjaga lisan, terbedakan didalam       bicaranya, sedikit dari berlebihan pada apa-apa yang tak bermanfaat,       sangat takut akan lisannya lebih takut dari pada musuhnya, mawas diri dari       hawa nafsu yang dapat membuat Allah murka, bergumul dengan Quran untuk       mendidik jiwa yang dengannya cita-citanya adalah dapat paham terhadap       apa-apa yang Allah kabarkan dari ketaatan dan menjauhi maksiat.

Bukanlah cita-citanya: Kapan aku mengkhatamkan surat ini?       Cita-citanya adalah: Kapan aku merasa cukup hanya dengan Allah bukan       selainnya? Kapan aku menjadi orang bertakwa? Kapan aku menjadi orang yang       berbuat ihsan? Kapan aku menjadi orang yang bertawakkal? Kapan aku khusyu       beribadah?, Kapan aku bertaubat dari dosa-sosa? Kapan aku bersyukur atas       segala nikmat ini? Kapan aku paham dari apa yang aku baca?, kapan aku malu       kepada Allah dengan malu yang sebenarnya? Kapan aku menyibukkan mataku       dengan Quran? Kapan aku perbaiki kejelekan-kejelekan urusanku? Kapan aku       mengoreksi diri? Kapan aku membekali diri untuk kehidupan setelah mati di       akhirat kelak?

Seorang mukmin yang berakal tatkala membaca       Al-quran maka alquran itu bagaikan cermin di matanya sehingga dia bisa       melihat apa yang bagus atau jelek dari perilakunya, maka apa-apa yang       Allah peringatkan, dia merasa diperingatkan dan apa-apa yang Allah       ancamkan dari siksa, dia merasa takut. Maka orang yang memiliki sifat       seperti ini atau paling tidak dekat dengan sifat tersebut, maka Alquran       akan menjadi saksi serta memberinya syafaat.

#penulis : al-fath

Print Friendly, PDF & Email
Nasihat untuk Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI