Problematika Dan Masalah yang Akan Dihadapi Para Penghafal Qur’an

Assalammu’alaykum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh…

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjamin kemurnian Al-Qur`ân telah memudahkan umat ini untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya agar membaca ayat-ayat-Nya, merenungi artinya, dan mengamalkan serta berpegang teguh dengan petunjuknya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati para hamba yang shalih sebagai wadah untuk memelihara firman-Nya. Dada mereka seperti lembaran-lembaran yang menjaga ayat-ayat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sebenarnya, Al-Qur`ân itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim …”[al-Ankabût/29:49].

Dahulu, para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang mulia dan Salafush-Shalih, mereka berlomba-lomba menghafal Al-Qur`ân, generasi demi generasi. Bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka dalam naungan Al-Qur`ân, baik belajar maupun menghafal disertai dengan pemantapan ilmu tajwid, dan juga mentadabburi yang tersirat dalam Al-Qur`ân, (yaitu) berupa janji dan ancaman.

Dan Alhamdulillah telah banyak bermunculan para hafidz Qur’an di berbagai daerah wabil khusus di Pulau Jawa. Tak dapat dipungkiri ini merupakan sinyal positif dan amat baik. Sehingga makin banyak bermunculan pondok pesantren yang berbasis ‘Tahfidz’. Terlebih sudah banyak pondok Pesantren Tahfidz yang tidak hanya mencetak ‘generasi penghafal Qur’an’ saja, tapi juga membangun karakter dan mental para penghafal Qur’an agar menjadi ‘Generasi Penghafal Qur’an Berakhlakul Karimah’.

Namun, perlu diketahui bahwa karakterisrik jalan tahfidz hampir sama dengan karakteristik jalan dakwah, yaitu : Jalannya panjang, penuh onak duri (ujian) yang menanti, sedikit orang yang mau menempuhnya, namun banyak sekali pahala atau keutamaan yang akan didapat. Karena jalannya panjang dan banyak ujiannya, maka sering kali muncul berbagai problematika dalam menghafal Al-Qur’an.

 

Berikut beberapa problematika dan masalah yang akan dihadapi para penghafal Qur’an :

  1. Jenuh menghafal.

Ketahuilah bahwasanya jalan menuju surga itu penuh dengan duri, dan orang-orang pilihan Allah adalah mereka yang mampu  menghadapi cobaan semacam ini. Ketika seseorang mengalami rasa jenuh dalam menghafal maka yang perlu dia lakukan :

  • Jangan menambah hafalan untuk sementara, cukup lakukan muroja’ah dari hafalan-hafalan yang sebelumnya. Atau kalau  memang tidak bisa memuroja’ah Karena pikiran terlalu penat cukup dengan membacanya saja, tetapi jangan sampai meninggalkan al-quran secara total.
  • Baca dan tadabburi tafsir dari ayat-ayat yang telah dihafal atau yang ingin dihafal agar kita mengerti makna dari ayat-ayat tersebut sehingga timbul rasa cinta untuk menghafalnya, sebagaimana kata pepatah: “tak kenal maka tak sayang”.
  • Salah satu cara untuk mengembalikan semangat adalah dengan membaca kisah-kisah orang-orang pilihan seperti kisah para mujahidin pada zaman dahulu, ulama, raja-raja, dan lain-lain. tetapi jangan membaca buku yang tidak bermanfaat seperti majalah gossip, komik-komik, dan yang sejenisnya karena bacaan-bacaan seperti itu bukannya menambah semangat tetapi justru melalaikan, dan mengajak kita untuk berkhayal.
  • Dengarkan bacaan al-quran dari orang-orang yang dikaruniai suara yang merdu, baik itu melalui kaset murotal atau sesama teman.
  • Ketahuilah bahwa ayat yang paling sulit dihafal ketika kita berhasil menguasainya akan menjadi ayat yang paling sulit untuk hilang dari ingatan,karena dia akan mengeluarkan usaha yang sangat keras, begitu pula sebaliknya, ayat yang mudah untuk dihafal biasanya akan mudah hilang (orang bilang “easy come easy go”).
  • Lakukan sedikit olahraga.
  • Setelah pulih lanjutkan kembali hafalan.

 

  1. Cinta dunia dan terlalu sibuk dengannya.

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,  Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.”(Qs. 75:20,21).

Solusi :

Jadikanlah dunia di tanganmu bukan di hatimu, sadarilah akhirat itu jauh lebih indah dari kenikmatan dunia. Kurangilah aktivitas yang tidak berguna dan senantiasa berdo’a agar terlindung dari hal yang demikian.

 

  1. Tidak sabar, malas, dan berputus asa.

Solusi :

Mengingat urgensi dan keutamaan menghafal al Qur’an.

 

  1. Cepat mengantuk saat menghafal.

Solusi :

Hindari makan terlalu banyak, berwudhu kemudian shalat 2 rekaat, berpindah tempat menghafal, beraktifitas sejenak untuk menghilangkan kantuk seperti menyapu, jalan-jalan, dan lain sebagainya.

 

  1. Sulit konsentrasi saat muroja’ah.

Solusi :

Kosongkan pikiran dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Cari waktu dan tempat yang tepat untuk muroja’ah.

 

  1. Kesulitan saat bertemu dengan ayat mutasyabihah.

Solusi :

Cari titik perbedaan, tandai dengan stabilo, kemudian diingat-ingat letak perbedaannya.

 

  1. Ingin cepat nikah.

Godaan terbesar dalam tahfizh adalah keinginan untuk menikah. Kebanyakan ‘Para calon  huffazh’ berguguran di jalan tahfizh karena masalah ini. Bagi yang ikut program khusus tahfizh maka hendaknya bertahan dari keinginan yang demikian dengan jalan ‘Ghadhul Bashar’ (Menundukkan pandangan bila bertemu lawan jenis), menjauhi segala rangsangan dalam bentuk apapun, serta memperkuat azamnya kembali untuk jadi seorang hafizh Qur’an.

 

  1. Mudah lupa.

Solusi :

Mengulang-ulang sebanyak mungkin saat menambah hafalan minimal 40 kali dan senantiasa menjaganya denganmurojaah setiap waktu.

 

  1. Tidak mampu membaca dengan baik.

Solusi :

Ikut program tahsin atau cari pembimbing untuk membetulkan bacaaan.

 

  1. Tidak mampu mengatur waktu.

Solusi :

Buat jadwal harian dan target hafalan dan muroja’ah perhari. Jika sangat sibuk bisa muroja’ah sambil beraktivitas yang tidak membutuhkan konsentrasi seperti menyapu, mencuci, dan lain sebagainya.

 

  1. Banyaknya dosa dan maksiat.

Solusi:

Segera bertaubat dan hindari segala bentuk kemaksiatan sekecil apapun. Ingatlah! Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Qur’an dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.

 

Imam asy-Syafi’i berkata:

Saya mengadu kepada Waqi’ buruknya hafalanku,
maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat.
Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya,
dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

  1. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.

Ini sering dilakukan para santri. Mereka tidak sabar untuk mengulang-ulang hafalannya dan terlalu terburu-buru untuk menambah hafalan baru. Nanti kita sendiri yang akan merasakan akibatnya yakni jadi berat saat muroja’ah dan seandainya kita telah selesai menyetorkan hafalan Qur’an, kita tidak mampu menghadirkannya setiap saat.

Solusi :

Bersabarlah dalam mengulang-ulang ayat baru. Sedikit penambahan hafalan tapi hafalannya lancar jauh lebih baik dari pada banyak hafalan barunya tapi tidak lancar atau banyak salahnya.

 

Nah, setelah mengetahui problematika dan masalah yang akan dihadapi oleh para penghafal Qur’an, semoga kita dapat lebih waspada dan memperkuat ‘azam serta tekad kita dan tentunya jangan pernah lupa memuraja’ah setiap hafalan yang kita miliki disamping kita menghafal ayat Qur’an yang lainnya. Serta yang tidak kalah penting itu adalah perbanyak berdo’a dan bermunajat kepada Allah agar tetap istiqomah dalam jalan ini yakni ‘jalan para keluarga Allah’.

Keep Spirit and remember “Innallaha Ma’ana” 🙂

Print Friendly, PDF & Email
Problematika Dan Masalah yang Akan Dihadapi Para Penghafal Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI