Wahai Abu Ummu yang semoga Allaah rahmati dan Allaah berkahi….

1. Bercita citalah memiliki anak yang sholih, kemudian mujahadah Yang gigih utk mewujudkannya, jgn lupa dg doa setiap saat.

إحرص على ما ينفعك واستعن باللّه ولاجر
“BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH mengupayakan apa-apa yang bermanfaat untukmu, memohonlah pertolongan kepada Allaah dan janganlah kamu merasa lemah (pesimis)” HR.Muslim

2. Jika menginginkan ank berubah, yg WAJIB BERUBAH adalah kita sebagai orgtua,
Muhasabah masing2 diri kita, sudahkah kita memberi banyak waktu utk mendampingi ank, atau porsinya lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah kmdn memberi mainan kpd ank agar ank “TENANG” selama kita mengerjakan sesuatu?
Jika iya, berubah lah, porsi mendampingi lebih banyak daripd hanya “SEKEDAR” Memberi “Ketenangan” yg sebenarnya mencetak ank senang bermain/asyik dg dunianya sendiri..

” orang yg cerdas adalah org yang SUDI MENGOREKSI DIRI dan beramal utk KEHIDUPAN SETELAH MATI, Sedang orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu BERANGAN-ANGAN kepada Allaah” (HR. At Tirmidzi, beliau mengatakan hadistnya hasan)

Ingat‼
Ibarat tanah lempung antum lah pembentuknya!!

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه “Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Kewajiban orangtua menjaga kefitrahan itu, atau orangtua nya menjadikannya manusia yang hanya senang berhura-hura, matrialistis, sekuler, liberal atau yang lainnya.

Untuk itu, muhasabah kita sebagai orangtua, sudahkah kita mempunyai cita-cita menjadikan ank2 kita anak yg sholih?sudahkah berikhtiar kita sesuai yg dituntun olh Rasulullaah sholallaahu ‘alaihi wa sallaam ? sudahkah berislam dg baik ? Sudahkah kita mempunyai ilmu dien yang cukup? Sudahkah kita menggunakan metode yg benar? Yi metodologi yg diajarkan Rasulullaah sholallaahu ‘alaihi wa sallaam.

Jika kita mengaku muslim, al Quran dan hadistlah panduan dan metode yg kita pakai, BUKAN YANG LAINNYA..‼(ilmu psikologi atau ilmu pendidikan barat)

Jujurlah kita, sebenarnya kita berislam karena bapak dan ibu kita beragama islam, alias islam keturunan..Bukan hasil belajar.
Utk itu, kita dituntut utk mempelajarinya…

3. Pendidikan karakter, taat pada Allaah dan RasulNya nurut orangtua, kuncinya ada 2,

“Selamatnya permulaan umat ini karena YAKIN dan ZUHUD, dan akan binasa akhir umat ini karena BAKHIL dan ANGAN-ANGAN (HR. Ibnu Abi Al Dunya dalam Yaqin dan dalam Qoashr al Amal, dihasankan al Albani dlm shahih al Jami’ al Shaghir:6746)
Karakter yang ditanamkan Rasulullaah sholallaahu ‘alaihi wasallaam dalam dada para sahabatnya adalah yakin dan zuhud. Yakin kepada Allaah, kepada janji Allaah, syariat Allaah, pahala dan ancaman Allaah, pertolongan Allaah dan segala yg dikabarkan Allaah trmsk menangnya agama ini diatas segala agama.

Lalu hidup didunia secara sederhana dan tawadhu’. Hilangkan kesenangan yg melalaikan, mainan yg tidak ada unsur tarbiyyah, tv, game, gadget dll.

Sementara rusaknya generasi umat ini akan hancur, hina dan binasa karna bakhil dan tidak percaya dengan janji2 Allaah. Mereka lebih percaya dengan pendidikan barat, faham liberal, materialistik, ilmu keduniaan beserta gemerlapnya, kikir utk berinfaq fii sabilillaah. Kemudian banyak angan2, mengimpikan dunia dan mengasah cita2 dunia sehingga enggan memperbaiki generasi, enggan beramar ma’ruf nahi ‘anil munkar dll.

Kalau generasi awal islam didikan Rasul sholallaahu ‘alaihi wa sallam berhasil memimpin dunia (dan selamat akhirat) karena karakter YAKIN DAN ZUHUD, Maka generasi akhir juga akan berhasil dan selamat kecuali dengan YAKIN DAN ZUHUD.
Inilah arti dari pendidikan karakter manhaj Nabi Muhammad sholallaahu’alaihi wa sallam yang harus kita hidupkan dan kita ikuti.

4. Berikan quality time, bukan sekedar kebersamaan fisik, sering2 lah mengajak bermain yg berkulitas, menanamkan aqidah, membacakan siroh, berkomunikasi efektif dll, jangan membiarkan anak sendiri terlalu lama sehingga ank menjadi sulit diajak komunikasi, dipanggil tidak menghiraukan, asyik dengan bermain daripada beljar al qur’an dsbnya

5. Keteladanan, jangan lupa saat ini ank adalah peniru ulung apa yang dia lihat itulah yg dia lakukan. Ketika antum ingin mengajari ank2 lebih byk berinteraksi dg Qur’an, tp antum jarang atau bahkan tidak pernah mengaji/menghafal qur’an. Maka lakukan hal itu di hadapan ank2 sesering mungkin, atau menyuruh sholat di masjid, tp antum tidak pernah sholat berjamaah atau mengajak ananda sholat berjamaah di masjid.

6. Libatkan Allaah dalam setiap kegiatan…

Wallaahu a’lam

Print Friendly, PDF & Email
Untuk Abu dan Ummu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat WHATSAPP KAMI DISINI